Sebuah Kehilangan

kehilangan

Seorang tamu datang berkunjung membawa buah tangan yang banyak tak terkira. Seperti seharusnya akupun menyambut dengan gembira. Tak ingin mengecewakan sang tamu segera kuberanjak mempersiapkan makanan. Makanan untuk sang tamu haruslah makanan terbaik yang bisa disajikan. Ku tak ingin menyia-nyiakan kedatangan sang tamu kali ini. Akan kuberikan saat pagi dan malam hari untuk menyambutnya. Segala macam minuman kusiapkan agar sang tamu tak kecewa bersamaku. Makanan dan minuman terbaik untuk menyambut sang tamu.

“Kesinilah sebentar temani Aku !”

Aku terhenti sejenak seolah ada sesuatu yang menyadarkanku. Segera kulihat bajuku. Baju ini tak pantas bagiku saat menyambut sang tamu. Kucari baju terbaik disekitarku untuk menyambut sang tamu. Aku mencari dan terus mencari yang terbaik untuk menyambut sang tamu. Masih terdengar samar-samar sang tamu memanggil namun tak kuhiraukan. Ini untuk menyambut sang tamu.

“Kesinilah sebentar temani Aku !”

Aku kembali terhenti. Sesuatu mengusik kesadaranku. Segera kubersihkan rumahku untuk menyambut sang tamu. Kusingkirkan semua debu untuk menyambut sang tamu. Kuwarnai dengan warna terbaik agar nyaman saat bersama sang tamu. Kutebarkan ribuan wewangi terbaik untuk menyambut sang tamu.

“Kesinilah sebentar temani Aku !”

Suara yang sama tak menghentikanku untuk terus mencari. Jamuan terbaik untuk menyambut sang tamu. Tamu terbaik dengan buah tangan yang banyak tak terkira. Semua pikiran tercurah untuk menyambut sang tamu.

“Aku pamit untuk pulang !”

Aku terperanjat. Aku belum menemaninya untuk sekedar bersama. Bercengkerama dengannya. Meminta semua buah tangannya yang banyak tak terkira. Menemaninya disiang hari dengan tilawah. Mencumbunya dimalam hari dengan qiyamullail. Aku bergegas menghampirinya sebelum sang tamu benar-benar pergi. Tiba-tiba hati ini dipenuhi rasa rindu. Rasa kehilangan setelah mengabaikannya. Seperti tahun lalu. Seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Akankah Kau datang tahun depan?”

“Aku selalu datang selama bumi ini berputar, entahlah kau apakah masih bernafas untuk menyambutku”

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Sebuah Kehilangan

  1. nh18 berkata:

    Aku belum menemaninya untuk sekedar bersama.

    Kalimat ini begitu “menampar”
    Ini tulisan yang bagus Kang …
    Saya suka tulisan ini …
    Saya suka … !

    Salam saya

  2. Ika Koentjoro berkata:

    Mudah2an tahun depan masih bisa bertemu Ramadhan

  3. Wong Cilik berkata:

    daleeemmm …
    kadang kita terlalu sibuk, sehingga lupa dengan esensinya … begitukah Bi?

  4. Ruri Alifia R. berkata:

    Saya nangkep pesannya kok jadi tertampar sendiri, ya, Kak…

  5. duniaely berkata:

    jadi merenung nih Kang

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s