Kisah Sebuah Kesungguhan

Pak Jaelani

Masjid Ar Rahman adalah nama masjid dilingkungan rumah sakit tempat akang bekerja. Disiang hari yang terik pada hari ke-27 di bulan puasa ini setelah selesai sholat dzuhur akang terlibat obrolan dengan Pak Jaelani. Beliau seorang peserta i’tikaf yang rutin diselenggarakan setiap tahun di masjid Ar Rahman. I’tikaf ini pada mulanya diadakan untuk memfasilitasi para pekerja yang ingin melaksanakan i’tikaf tetapi tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Jadi selepas bekerja mereka tidak pulang ke rumah melainkan melaksanakan i’tikaf di masjid. Alhasil kegiatan i’tikaf lebih semarak di malam hari daripada di siang hari.

Pak Jaelani adalah salah satu peserta i’tikaf tetapi beliau bukan salah seorang pekerja di lingkungan rumah sakit tempat akang bekerja. Hal yang istimewa dari Pak Jaelani ini adalah beliau telah mengikuti kegiatan i’tikaf di masjid ini sejak tahun 2007. Perkenalan akang dimulai sejak enam tahun yang lalu ketika Pak Jaelani mulai ber-i’tikaf di masjid ar rahman ini. Diusianya yang mencapai tujuh puluh satu tahun Pak Jaelani masih tetap rajin mengikuti i’tikaf. Bahkan di masjid ini hanya beliaulah yang benar-benar menyelesaikan i’tikaf-nya hingga akhir. Tidak seperti kebanyakan pekerja yang sering meninggalkan masjid untuk keperluan lainnya dan menyelesaikan i’tikaf-nya ketika mulai masuk masa libur lebaran.

Ketika menyapanya akang langsung memperkenalkan diri karena yakin Pak Jaelani sudah lupa kepada akang. Maklum saja dilingkungan ini Pak Jaelani sudah begitu dikenal banyak pekerja yang sering mengajaknya ngobrol disaat istirahat. Dengan demikian beliau kesulitan untuk mengingatnya satu persatu apalagi hanya berjumpa sekali dalam setiap tahun. Pak Jaelani bertanya tempat tinggal akang dan sudah mempunyai anak berapa. Seingat akang setiap tahun setiap kali bertemu Pak Jaelani telah menanyakan pertanyaan tersebut. Akan tetapi akang samasekali tidak keberatan untuk menjawab semua pertanyaannya. Sambil bercanda Pak Jaelani juga “menyentil” akang yang tidak pernah kelihatan ikut i’tikaf ditahun ini. Mendengar pertanyaan ini akang hanya bisa bilang sibuk sambil nyengir kuda:mrgreen: .

Tidak seperti Pak Jaelani yang memang sudah sepuh, akang masih ingat cerita kehidupan Pak Jaelani. Pria yang dilahirkan di Cilacap ini kini tinggal di Pondok Gede bersama istri dan anak-anaknya. Beliau sudah lupa kapan terakhir pulang untuk berlebaran di kampung halamannya. Ayahnya meninggal saat beliau masih dibangku SMP sedangkan ibunya meninggal enam tahun kemudian. Kepergian kedua orang tuanya membuat jalan hidupnya begitu sulit sehingga memaksanya untuk merantau ke Jakarta pada tahun 70-an. Menurutnya setelah kepergian kedua orang tuanya beliau merasa segan untuk mudik jika lebaran tiba. Selain sudah tidak memiliki harta tersisa di kampung beliau juga merasa akan merepotkan kerabat jika berlebaran di kampung halaman.

Kakek yang telah dikaruniai empat orang cucu ini mengeluhkan kondisi matanya yang mengalami katarak. Akang masih ingat beliau pernah cerita sudah menjalani operasi katarak di tahun 2009 namun gangguan dimatanya hingga kini belum juga hilang. Namun demikian beliau masih sanggup menyelesaikan tilawahnya hingga khatam dalam satu bulan ramadhan ini. Akang memuji kesungguhannya sambil mengingat diri sendiri yang masih pontang-panting mengejar “setoran tilawah”. Diantara obrolannya beliau bercerita jika pulang ke rumahnya sering tidak bisa melihat nomer angkutan metro mini yang menuju rumahnya. Untuk mengatasinya beliau akan bertanya kepada orang disekitarnya yang menunggu angkutan untuk memastikan angkutan yang ditumpanginya tidak salah. Sungguh sebuah perjuangan yang tidak mudah bagi orang dengan kondisi seperti Pak Jaelani.

Diakhir obrolan Pak Jaelani mengingatkan akang agar tahun depan bisa mengikuti i’tikaf. Sambil tak lupa minta dido’a-kan agar dia sendiri masih diberi umur untuk kembali lagi beri’tikaf di masjid ini tahun depan. Sambil mengiyakan permintaan Pak Jaelani, akang hanya bisa berharap semoga di ramadhan tahun depan akang dan Pak Jaelani bisa berjumpa lagi dalam keadaan sama-sama melaksanakan i’tikaf. Terima kasih yaa Alloh telah mempertemukan kami kembali, karena setiap berjumpa dengan Pak Jaelani selalu timbul semangat untuk selalu memanfaatkan kehadiran ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

15 Balasan ke Kisah Sebuah Kesungguhan

  1. Ping balik: Bersama Pak Jaelani (lagi) | Belajar Kehidupan

  2. Saya ikut memungut pelajaran amat penting dari Pak Jaelani ini Kang…

    Taqaballahu minna wa minkum
    shiyamana wa shiyamukum
    minal ‘aidin wal faizin
    Mohon maaf lahir dan batin ya Kang🙂

  3. Erit07 berkata:

    Salut sama pak jaelani,hebat..

  4. cumakatakata berkata:

    Semoga kita semua masih diberi kesempatan bertemu dengan ramadhan ya Akang..

    Terima kasih cerita yg menggugah ini Kang…. Malu pada diri sendiri ketika membaca seperti ini..😦

  5. pursuingmydreams berkata:

    Semoga Pak Jaelani sehat selalu ya kang🙂 . Nenek saya salah satu matanya juga pernah dioperasi untuk menghilangkan katarak, ternyata mata sebelahnya lagi kena juga, nenek bilang tertular dari mata sebelah, memang bisa begitu ya kang?.

  6. duniaely berkata:

    Salut sama pak Jaelani kang

  7. nh18 berkata:

    mengikuti kegiatan i’tikaf di masjid ini sejak tahun 2007 …
    Salut untuk pak Jaelani ini …
    mengisi hidupnya dengan beribadah di Masjid

    Salam saya Akang

  8. Guru Muda berkata:

    Allah memilih hamba-Nya untuk selalu berdialog. Meskipun katarak tak menjadikan Pak Jaelani berhenti mengkhatamkan ayat-Nya.
    Sungguh luar biasa.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s