Kisah Wildan

wildan2

Dari kejauhan tampak seorang bapak mendorong kursi roda yang dinaiki anaknya. Pemandangan yang langsung mengingatkan akang kepada diri sendiri. Seolah akang sedang memandang cermin ketika akang mendorong Gilang kemana-mana dengan kursi rodanya. Tak perlu menunggu hingga jarak dekat untuk mengetahui siapa sosok yang terlihat dikejauhan itu. Semua orang dikampung ini mengenal Rudi karena memang dia lahir dan besar di kampung ini. Rudi mempunyai anak Cerebral Palsy berusia sepuluh tahun bernama Wildan. Mereka berjalan semakin dekat, suara kursi roda berderit bergoyang diatas jalan aspal. Wildan sesekali terlihat mendongak kebelakang hingga kepalanya membentur sandaran kursi. Tidak hanya itu badannya juga terkadang membanting kekanan atau kiri membuat kursi roda itu semakin berderit-derit.

Kursi roda yang dipakai Wildan tidak bisa dikatakan layak untuk seorang anak penyandang Cerebral Palsy. Sandaran kepala dibungkus dengan kain bekas selimut kusam. Begitu pula bagian kanan dan kirinya terbungkus kain-kain yang diikat tali plastik. Penahan bagian depan dibuat dari papan kayu yang juga dibungkus kain tebal diikat tali terbuat dari kain. Agar tubuh Wildan tidak melorot kedepan dibuat penahan terbuat dari kain diantara selangkangan kaki. Alas pijakan kaki yang telah copot diganti papan kayu juga dikuatkan dengan ikatan tali plastik. Menurut keterangan Rudi, kursi roda tersebut adalah pemberian dari seseorang. Walau hanya kursi roda bekas tetapi kursi roda tersebut begitu bermanfaat jika ingin mengajak Wildan jalan-jalan keluar rumah.

wildan3

Sejak pertemuan terakhir kami empat tahun yang lalu memang tidak pernah ada komunikasi langsung antara akang dan Rudi. Akang hanya mendengar berita tentang Rudi dari keluarga di kampung. Ketika akhirnya bertemu, kami seperti bertemu kawan seperjuangan yang lama terpisah. Rudi banyak berkisah tentang perkembangan Wildan dari tahun ke tahun. Secara fisik tubuh Wildan tampak gemuk dan berisi. Hanya tangannya yang sedikit kaku sedangkan tungkai kaki dan pinggul tampak normal. Butuh tenaga kuat untuk sekedar mengangkat atau menurunkan Wildan dari kursi roda. Rudi begitu khawatir tentang kebiasaan Wildan yang sering membantingkan tubuhnya sendiri. Gerakan tubuh Wildan tak terkontrol dan sering melengking ke semua arah. Selain itu Wildan samasekali tidak bisa melakukan “komunikasi” dengan orang-orang disekitarnya.

Perbincangan kami terus mengalir seputar keseharian Wildan dan Gilang. Namun demikian akang tetap menangkap sebuah ketegaran dari Rudi. Tak ada keluh kesah tentang istrinya yang kabur karena tak tahan dengan keadaan Wildan. Akang sendiri tahu cerita tersebut dari keluarga akang. Rudi bekerja sebagai pelayan sebuah rumah makan di Bandung. Hanya seminggu sekali dirinya bisa pulang menengok Wildan. Sehari-hari Wildan diurus oleh kakek dan neneknya yang sudah tua. Di Bandung Rudi tinggal dirumah majikannya, sesekali dia diminta mengajar anak-anak mengaji oleh tetangganya. Dari kegiatannya ini Rudi sering mendapat imbalan berupa sembako dan terkadang uang untuk mencukupi semua keperluannya.

wildan1

Disela-sela obrolan Rudi juga tak lupa memberi nasehat agar akang tetap selalu sabar dalam menjalani hidup bersama Gilang. Sambil sedikit berkelakar Rudi mengatakan bahwa mengurus anak seperti Wildan dan Gilang itu lebih gampang. Orang tua hanya perlu mengurusnya didunia karena diakhirat mereka pasti menjadi penghuni surga. Sedangkan mengurus anak normal akan lebih sulit karena harus mendidiknya di dunia juga mempertanggung-jawabkan nasibnya di akhirat kelak. Sungguh sebuah kelakar yang terasa membahagiakan, entahlah mungkin karena akang tak pernah berpikir sejauh itu.

Pertemuan dengan Rudi dan Wildan yang terasa singkat ternyata memberikan tamparan keras dihati akang. Seharusnya akang bisa tetap bersyukur dengan keadaan akang sekarang ini. Bersyukur dengan kehadiran seorang istri yang tetap mendampingi untuk terus melanjutkan hidup. Tak pernah sehari pun Gilang merasa kelaparan karena tak punya uang untuk membeli beras. Hingga kini akang masih mampu memberikan terapi untuk Gilang seminggu dua kali meski keadaan Gilang tak pernah lebih baik dari sebelumnya. Akang tak perlu meninggalkan Gilang dengan orang lain untuk mencukupi kebutuhannya. Dengan keadaan yang demikian adanya Gilang masih bisa menangis saat ditinggal pergi oleh akang. Hal itu cukup memberi akang rasa dibutuhkan oleh Gilang. Bentuk komunikasi akang dengan Gilang yang seperti itu saja cukup membuat akang bahagia. Terasa memalukan jika akang terus merasa menjadi manusia yang tidak beruntung padahal bagitu banyak orang dengan nasib seperti Rudi dan Wildan.

banner-giveaway

“Tulisan ini disertakan dalam TGFTD – Ryan GiveAway”

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Cerita Gilang. Tandai permalink.

46 Balasan ke Kisah Wildan

  1. ujang muksin berkata:

    Setelah saya membuka web untuk mencari sebuah kursi anak yang berkebutuhan khusus tuk di jadikan contoh, jika nanti saya mencari di sebuah toko ato di pesan di sebuah meubel kayu, ternyata ada sebuah kisah yg merupakan sbuah kisah yg sedang di alami bahkan senasib dengan anak saya RIFQI MU’AFA SHOLEHUDIN yg berumur 4 Thn,(sdr.Wildan,Gilang, Haidar bersama Rifki semoga mendapat keajaiban dari Alloh SWT,Amin.

  2. uje berkata:

    stelah membaca kisah wildan& gilang,itu mrpkan kisah sy juga bersama haidar yg skarang berumur 6 th,smoga smua yg kt lakukan slalu ikhlas sehingga bernilaikan ibadah,.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s