Yang Terlupakan

byur

Suasana lebaran berangsur-angsur menghilang dengan sendirinya. Kemacetan Jakarta telah “sembuh” dengan sempurna. Kunjungan pasien di rumah sakit tempat akang bekerja kembali normal. Namun ada satu topik hangat yang masih jadi pembicaraan rekan kerja akang terutama yang ibu-ibu yaitu soal pembantu rumah tangga yang tak kunjung datang setelah mudik lebaran. Hampir setiap tahun setelah usai lebaran kejadian seperti ini berulang. Bahkan ada yang sampai meninggalkan anaknya di kampung karena tidak adanya pengasuh. Bisa dibayangkan sebuah keluarga muda tinggal di jabodetabek dengan satu atau dua anak yang masih balita. Dengan kondisi kedua orang tua bekerja maka keberadaan PRT begitu penting untuk kehidupan keluarga seperti ini.

Keluarga akang sendiri dengan kondisi seperti keluarga diatas termasuk yang beruntung. Tak pernah akang mengalami masalah dengan ketiadaan pengasuh setelah lebaran. Si Uwa (panggilan akang untuk pengasuh Gilang) telah bersama keluarga akang sejak Gilang dalam kandungan. Pada mulanya mertua akang meminta akang memberinya pekerjaan karena keadaanya yang kekurangan. Selain itu Si Uwa masih kerabat dekat keluarga mertua. Hingga Gilang berusia setahun kami pun pindah menempati rumah sendiri.

Sempat ada rasa khawatir jika Si Uwa tidak diberi ijin oleh suaminya untuk ikut bersama akang. Namun akhirnya Si Uwa diberi ijin oleh suaminya dengan syarat anaknya dibawa serta. Selama ini Si Uwa tidak pernah diperlakukan sebagai pembantu. Selain mendapat gaji sebagaimana mestinya semua keperluan sekolah anaknya menjadi tanggung jawab akang. Setiap dua minggu sekali akang sekeluarga harus boyongan dan menginap di rumah mertua. Hal ini dilakukan semata-mata demi kepentingan Si Uwa dan suaminya. Jarak rumah kami yang hanya setengah jam perjalanan membuat hal ini tidak begitu sulit dilaksanakan.

Keadaan ini memang telah membuat akang menjadi ketergantungan akan kehadiran Si Uwa. Keadaan Gilang sebagai anak CP memaksa akang untuk terus mempertahankan Si Uwa di dalam keluarga akang. Dalam banyak hal Si Uwa lebih memahami kondisi Gilang daripada akang dan istri. Apalagi sejak kehadiran Akbar, perhatian istri akang terhadap Gilang menjadi terpecah.

Bukannya tidak sempat terpikir untuk meminta istri akang berhenti bekerja. Penanganan Gilang dengan kondisi seperti itu sungguh membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kemampuan akang pun terbatas untuk memenuhinya. Lagipula dengan tetap bekerja, Gilang banyak mendapat kemudahan untuk terus melakukan terapi di tempat istri akang bekerja. Bagi sebagian orang mungkin alasan yang klise menganggap pendapatan kita tak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Namun akang hanya berusaha untuk memberikan penanganan terbaik untuk Gilang.

Banyak rekan akang yang begitu salut dengan kesetiaan Si Uwa didalam keluarga akang. Apalagi dengan keadaan Gilang yang tentunya memerlukan perhatian dan penanganan berbeda. Mereka mengatakan kalau akang begitu beruntung mendapatkan pembantu seperti itu. Sebagian malah bertanya bagaimana cara akang mempertahankan pembantu agar bisa awet. Mendengar pertanyaan seperti itu akang tidak bisa mejawab apapun. Bukannya tidak pernah ada masalah antara Si Uwa dengan akang maupun istri. Namun hingga sejauh ini kami selalu berhasil mengatasinya dan memuaskan kedua belah pihak. Hingga saat ini lebih dari tujuh tahun Si Uwa bersama keluarga akang membuat akang lupa bagaimana rasanya kehilangan seorang pembantu.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Cerita Gilang dan tag , . Tandai permalink.

19 Balasan ke Yang Terlupakan

  1. Oh Mas Gusman! berkata:

    wah, salut!
    kalau diperlakukan sebagai bagian dari keluarga, Uwa juga pasti melakukan pekerjaannya dengan baik karena merasa itu untuk “keluarganya” juga🙂
    hebat kang!

  2. Akang memang orang yang beruntung….
    Tuhan menunjukkan kasih sayangnya..!!!!!
    Sementara akang & istri report membagi waktu….
    melalui Uwa..Akang bisa mengatasinya…!
    salam hangat selalu tuk Gilang
    ez

  3. prih berkata:

    Kehadiran Uwa adalah anugerah sebagai partner mendampingi tumbuh kembang Gilang dan Akbar bagi Akang sekeluarga. Salam

  4. Orin berkata:

    Alhamdulillah ya Kang, si Uwa bageur dan setia, mudah2an weh hubungan akang sekeluarga sama beliau selalu terjaga baik ya. Aamiin

  5. ainulharits berkata:

    Sebetulnya kitalah yang membutuhkan mereka, tapi kadang ada yang memperlakukan seolah olah merekalah yang membutuhkan kita

  6. lieshadie berkata:

    Alhamdulillah punya Uwa yg setia ya Abi…jaman sekarang susah banget caripengasuh anak..

    • abi_gilang berkata:

      Betul Mba Lis, bukan hal yang aneh kalo sekarang nyari pengasuh mereka suka tanya2 dulu “anaknya berapa?”, “umurnya berapa tahun?”, “udah pake mesin cuci nggak?”, “boleh punya hp nggak?” dan banyak pertanyaan lain sebelum memutuskan menerima pekerjaannya.

  7. dede6699 berkata:

    begitu adil dalam kehidupan

    harusnya seperti itu, hingga tak ada kasih yang hilang,🙂

  8. duniaely berkata:

    pasti sdh spt keluarga sendiri ya kang hubungannya dgn uwa🙂

  9. lazione budy berkata:

    Justru orang-orang seperti itu yang harus dapat respect tinggi.
    Saya salute sama tetangga saya yang jadi abdi di sebuah rumah, yang merawat anaknya dari bayi sampai dewasa.
    Mereka adalah superman!

  10. danirachmat berkata:

    Terharu bacanya Kang. Uwa pasti sudah seperti keluarga sendiri ya. Semoga awet terus Kang hubungan keluarga dengan Uwa dan keluarganya. 🙂

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s