Tetangga Oh Tetangga

tetangga3

Salah satu hal yang bisa disebut surga dunia adalah bisa hidup rukun dengan tetangga. Tanpa bertanya pun akang yakin akan banyak orang yang setuju dengan pendapat tersebut. Bagaimana tidak, tetangga adalah orang-orang yang paling dekat dengan keluarga kita. Sepanjang hari kita hidup bersama mereka dari mulai matahari terbit hingga terbit kembali esok hari. Dalam lingkup tetangga kita berbagi udara yang sama. Kita berbagi sumber air yang sama. Sejatinya kepada tetanggalah kita menitipkan semua harta benda yang kita tinggalkan saat bepergian dari rumah. Dengan tetangga yang telah hidup bersama bertahun-tahun bahkan kita akan sulit menutupi segala kebiasaan kita sehari-hari. Satu tetangga rajin mengurus tanaman depan rumahnya namun tak bisa memperbaiki peralatan yang berhubungan dengan listrik. Tetangga lain terkenal rajin mengurus kendaraannya, setiap hari mobilnya selalu kinclong dan wangi. Namun ketika diajak kerja bakti membersihkan selokan biasanya dia mengupah orang lain untuk melakukannya. Begitulah keseharian kita yang tak mudah ditutupi dari pengamatan tetangga.

tetangga1

Bayangkan jika dengan orang-orang yang begitu dekat keberadaanya disekitar kita terjadi pertengkaran. Kita tidak akan betah berada di rumah. Berangkat kerja pagi-pagi sekali sebelum tetangga bangun agar tidak berpapasan didepan rumah. Pulang kerja larut malam menunggu disekitar rumah telah sepi. Ketika waktu libur tiba lebih memilih keluar rumah dengan alasan berwisata. Terus menerus kita menghindar bertemu dengan tetangga sementara mereka berada disekitar rumah kita. Kehidupan yang demikian pasti akan membuat rumah kita terasa di neraka. Tentu saja ada opsi lain yang bisa dilakukan yaitu pindah rumah. Namun jangan membayangkan opsi tersebut mudah untuk dilakukan. Bagi kebanyakan orang yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya memiliki rumah adalah impian semua orang. Untuk memilikinya tak jarang harus dengan cara mencicil sepuluh hingga lima belas tahun. Belum lagi proses yang harus dijalani untuk mendapatkan kucuran kredit dari bank. Setelah perjuangan panjang untuk memiliki rumah maka tak akan mudah bagi seseorang melepaskan begitu saja rumahnya. Andaipun berhasil menjual rumah dan pindah ke tempat yang baru bukan jaminan pula terhindar dari konflik dengan tetangga baru.

tetangga2

Mewujudkan keseharian yang rukun dengan tetangga memang tidak mudah. Perbedaan karakter dan latar budaya diantara masing-masing orang sangat berpengaruh dalam kehidupan bertetangga. Memang manusiawi jika kita menginginkan kehidupan bertetangga nyaman dan tentram. Namun kita juga harus menyadari bahwa kita tidak bisa menuntut pihak lain untuk mewujudkannya. Kita sendirilah yang harus mewujudkan kehidupan bertetangga yang kita idam-idamkan. Perlu perjuangan dan pengorbanan yang tidak mudah dalam menjalani kehidupan bertetangga. Saling menghormati dan menjaga ego pribadi menjadi hal sangat penting.

tetangga5

Jika hubungan dengan tetangga baik maka “rumahku surgaku” bukan hanya isapan jempol belaka. Bukan hal-hal besar yang menjadikan nikmatnya hidup rukun bertetangga. Bisa meminta sedikit garam kepada tetangga ketika sedang memasak cukup memberikan kegembiraan. Coba saja kita mengalami kejadian ketika sedang memasak dan ternyata garam di dapur habis sehingga harus membeli dulu ke warung. Jika jaraknya dekat mungkin tak jadi masalah tetapi jika warungnya jauh bisa-bisa masakannya keburu gosong. Berbagi bumbu dapur dengan tetangga sebelah rumah atau depan rumah bisa menjadi tanda hubungan baik diantara tetangga. Tentu saja setelah berbagi bumbu maka sepantasnya kita pun berbagi makanannya. Kegiatan lebih besar yang bisa dilakukan untuk bergembira bersama tetangga bisa jadi berwisata bersama. Sebagai pekerja seringkali kita tidak sempat bertemu dalam waktu sepekan maka berakhir pekan bersama bisa menjadi pengikat kebersamaan yang menyenangkan.

tetangga4

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

29 Balasan ke Tetangga Oh Tetangga

  1. Idah Ceris berkata:

    Tetangga merupakan bagian dari keluarga (juga) ya, Kang. Sering kita mengadakan simbiosis mutualisme dengan tetangga, kan?Sering nitip jemuran sama tetangga. Dan kalau sampai gak bisa akrab, nanti jemurannya ikut siapa? Hihihihi #Ngoook.

    Pertanyaan: Itu berwisata kemana ya, Kang?🙂

  2. puteriamirillis berkata:

    setuju, tapi di jakarta terkadang hidup bertetangga sudah berkurang, terutama jika semua sibuk🙂

  3. ditter berkata:

    Setuju banget, Kang. Hidup rukun dengan tetangga adalah salah satu sumber kebahagiaan. Keluarga saya kalau pergi ke luar kota, suka minta tolong sama tetangga untuk hidupin dan matiin lampu-lampu rumah saya, hehe….😀

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s