Teman Kawan Temanku Bercerita

teman

Teman kawan temanku

Agustus, 2013.
Dia tampak beberapa kali melirik jam tangannya sambil menengok kearah jendela laboratorium yang ada didepannya. Dari seragam yang dikenakannya aku tahu dia berasal dari Rumah Sakit Cempaka. Sebuah rumah sakit yang masih satu grup dengan rumah sakit tempat aku bekerja saat ini.
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu Pak?” tanyaku sambil duduk disebelahnya.
“O iya nih Mas … Ridho,” jawabnya, matanya memperhatikan name tag yang kukenakan di jas lab. “Aku disuruh Bos ngambil hasil lab anaknya yang dikirim kesini kemarin.”
“Ada nomor rekam medis dan namanya?” tanyaku lagi.
“Tadi sih udah bilang sama petugas admin, katanya aku disuruh nunggu.”
“Koq bukan kurir yang ngambil hasilnya?”
“Iya tadi aku sekalian ada meeting sama orang korporat di gedung sebelah, trus Bos-ku malah nyuruh aku ngambil hasil lab anaknya.”
Tak terasa obrolan diantara kami berlanjut. Merasa kami bekerja pada sebuah grup perusahaan yang sama membuat obrolan kami nyambung. Febrian namanya, ternyata tidak setua yang aku kira. Usianya malah lebih muda tiga tahun dariku. Sudah bekerja di RS Cempaka selama sepuluh tahun. Ternyata kami sering mengikuti kegiatan training yang sama yang sering diadakan oleh perusahaan. Bahkan Febrian mengenal beberapa petugas laborat RS Cempaka yang aku kenal. Termasuk Argo yang meninggal tiga bulan yang lalu.
“Mas Ridho kenal sama Argo kan, yang meninggal kemarin?”
“Tau sih orangnya, kami kadang ketemu diacara-acara seminar,” kucoba mengingat sosok Argo “Dia adik tingkatku dikampus dulu, berkawan baik dengan salah seorang temanku yang aktif di MAPALA.”
“Nggak nyangka yah, orang sebaik itu ternyata … “
Kalimatnya kemudian menggantung seperti memancing rasa penasaran. Aku menatapnya heran sambil menunggu kalimat yang keluar dari mulut Febrian selanjutnya. Kalimat yang ternyata membuat pikiranku mendadak kembali ke masa lalu.

Kawan temanku

Juli, 2012.
Peserta seminar “Peranan Laboratorium Dalam Mengatasi Dampak Penyebaran Virus Flu Burung” baru sedikit saja yang datang. Daripada bengong sendiri aku memilih menikmati secangkir kopi yang disediakan oleh panitia.
“Kang sendirian aja nih?”
Sebuah tepukan ringan dipundak menghentikan tanganku yang hendak mengangkat cangkir kopi ke mulutku. Aku segera menoleh kearah pemilik suara, seorang pria menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman sambil tak henti tangan kirinya menepuk pundakku. Kusambut uluran tangannya sambil berusaha mengingat-ingat sosok yang kini ada dihadapanku.
“Saya Argo Kang! temannya Wita,” ujarnya seolah mengerti apa yang kupikirkan.
“Akang masih ingat koq,” jawabku berpura-pura “Kamu masih di RS Cempaka kan?”
“Ya iya Kang, emang mau pindah kemana lagi. Lagipula udah betah disana. Buktinya sampai sekarang udah delapan tahun nggak pindah ke tempat lain.”
“Syukurlah kalo kamu betah, lagipula tidak banyak rumah sakit di Jakarta ini yang memberi upah lebih besar, iya kan?”
Argo hanya tersenyum mendengar perkataanku. Seingatku dulu Argo tidak kurus seperti yang tampak didepanku saat ini.
“Trus sekarang kamu tinggal dimana?”
“Masih ngontrak ditempat dulu Kang, di Pulogadung. Kayaknya akang dulu pernah nganter Wita ke kontrakan saya deh?” Argo malah balik bertanya.
“Oo!” jawabku tak yakin “Bareng anak istri disana?”
“Hhh saya belum nikah Kang”
Mendengar jawaban Argo seperti itu aku sedikit kaget. Argo seorang lelaki yang berusia lebih dari tiga puluh tahun, dengan pekerjaannya sekarang ini sudah lebih dari mapan untuk membangun sebuah rumah tangga. Namun aku tak mau berpikir panjang mengenai alasan Argo memilih untuk belum menikah saat ini. Lagipula setiap manusia pasti punya alasan sendiri merencanakan kehidupannya.

Temanku

Mei,2013
“Selamat jalan Argo, semoga segala amal ibadahmu diterima disisiNya.”
Itulah kalimat yang ditulis Wita dalam status FB-nya. Argo, sebuah nama yang sepertinya pernah aku dengar sebelumnya. Dengan rasa penasaran kuarahkan kursor keatas tulisan “Argo” yang berwarna biru. Sebuah laman FB baru muncul menampilkan profil seorang lelaki sedang mengarahkan kameranya kearah sunrise. Nampak sekali dia sedang berada di ketinggian sebuah puncak gunung. Deretan awan yang disinari matahari berderet menjadi background yang indah. Status terakhir ditulis sebulan yang lalu dengan kalimat “…@ Mahameru menikmati sajian Maha Cipta…”.
Kuraih ponsel yang tergeletak disamping keyboard, segera kubuka daftar kontak dan kuarahkan kursor pada sebuah nama, Wita.
“Halo, assalamu’alaikum Ustadz, tumben nih nelpon dakuh?” suara diseberang terdengar tidak asing ditelingaku. Wita yang selalu memangilku dengan sebutan Ustadz ternyata masih menyimpan nomor ponselku.
“Wa’alaikum salam” jawabku sedikit tergesa,” aku baca FB mu barusan, Argo itu anak mapala 98 kan?”
“Iya bener, yang kerjanya di RS Cempaka, masa kamu lupa sih, bukannya masih satu grup dengan rumah sakit kamu?” Wita malah menjawab dengan banyak pertanyaan.
“Memang sih, tapi kan lokasi kita jauh, ketemu juga paling-paling kalo ada acara seminar atau training bareng, setahun lalu kayaknya aku sempet ketemu deh, trus meninggalnya kenapa?”
“Nah justru itu aku cuma denger kabar dikit doank, katanya Argo jatuh sakit sepulang dari Semeru, aku kira kamu tahu kabar lebih banyak dibanding aku”

Human immunodeficiency virus, telah merenggut nyawa Argo. Sebuah kecelakaan kecil pernah dialami Argo saat baru bekerja di RS Cempaka. Tangannya tertusuk spuit (jarum suntik) dari salah seorang pasien yang tengah dirawat. Belakangan diketahui pasien tersebut menderita HIV AIDS. Takut dipecat dari tempatnya bekerja mungkin menjadi sebab Argo tidak mau melaporkan kejadian tersebut kepada atasannya. Sebagai petugas lab tak sulit bagi Argo untuk memeriksa darahnya sendiri. Sekian waktu berselang hanya satu teman Argo yang mengetahui kondisi Argo sebenarnya. Ketika kematiannya diketahui karena HIV, tak heran banyak orang termasuk Febrian yang menyangka Argo adalah lelaki petualang cinta dan penikmat dunia malam ibukota. Tuduhan yang dibantah dengan keras oleh Wita.
“Yang ngomong tuh nggak kenal siapa Argo” ungkap Wita saat kuberitahu kabar terakhir tentang Argo.
“Sumpah Ridho, dia itu orang baik” nada suaranya mulai berat, samar-samar terdengar isak tangis Wita.
“Asal kamu tau, kami pernah jadian sebelumnya. Aku pikir hubungan itu bakal berakhir indah. Aku tau Argo begitu mencintaiku. Argo orang yang baik dan penuh tanggung jawab. Entah mengapa tiba-tiba dia memutuskan hubungan itu begitu saja tanpa alasan jelas. Argo-lah yang membuatku menyia-nyiakan beberapa tahun dari hidupku untuk terus mengharapkannya. Hingga kutemukan penggantinya, tetap saja Argo tak hilang dari hati ini begitu saja. Kematiannya membuka tabir semuanya, aku tau apa yang dilakukan Argo adalah bukti cintanya buatku”

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Teman Kawan Temanku Bercerita

  1. duniaely berkata:

    ini fiksi apa berdasar kisah nyata kang ?🙂

    btw, di DE skrg bisa juga menulis fiksi lho kang🙂

  2. ditter berkata:

    Sedih banget…. Jadi mungkin dia sengaja memutuskan kekasihnya dan nggak menikah karena sudah tahu kelanjutan nasibnya, ya…. Semoga dia tenang di sisi-Nya. Amin….

  3. Imron Rosyadi berkata:

    HIV ya? kalo bersentuhan kulit-kulit dengan pasien HIV, salaman misalnya, bisa tertular ndak kang?
    *ngeri*

  4. lambangsarib berkata:

    Argo korban yah …? Orang baik selalu dikenang saat meninggal.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s