Padi Dan Si Anak Sawah

CIMG1323

Seorang guru seni lukis menyuruh anak-anak muridnya untuk menggambar sebuah pemandangan. Sang guru membebaskan mereka untuk melukis dengan imajinasi sendiri-sendiri. Ketika hasil lukisan dikumpulkan ternyata hampir semua gambar yang dibuat murid-murid memiliki tema yang sama. Sebentuk gunung dengan matahari bersinar diatasnya, dihiasi gumpalan awan serta burung terbang menjadi background-nya. Sebentuk sungai berkelok atau jalan yang nampak membelah hamparan sawah. Selainnya barulah mulai banyak perbedaan lukisan tergantung dari kreatifitas dan keterampilan masing-masing murid.

Begitulah kejadian yang pernah dialami si anak sawah ketika masih sekolah dikampung dahulu. Entah mengapa gambaran mereka tentang sebuah pemandangan adalah seperti gambaran diatas. Hal ini bisa saja disebabkan karena kampung tempat tinggal mereka memang berada disebuah kaki pegunungan. Didepan rumahnya terhampar sawah yang menghiasi hari-hari dengan semerbak bau tanah. Suara katak tak bosan menemani lelap tidur di malam hari. Dibelakang rumah deretan pepohonan dibukit setia menjadi penjaga kampung. Menjadi rumah yang nyaman bagi tonggeret (sunda) ketika bernyanyi dengan suara nyaringnya. Suaranya bergantian dengan suara riuh rumpun bambu yang tertiup angin, membuat semarak kampung yang sunyi.

CIMG1802

Padi oleh sebagian besar rakyat Indonesia dipilih sebagai tanaman yang menghasilkan bahan makanan pokoknya yaitu beras. Walaupun ternyata padi bukanlah tanaman asli tanah nusantara ini. Bagi si anak sawah padi tidak hanya menjadi sekedar makanan pokok. Sebagai seorang petani yang hidupnya bergantung dari sawah maka padi menjadi pokok kehidupan keluarganya. Dengan menjual padi keluarganya bisa membeli lauk-pauk, mendirikan rumah hingga bersekolah. Tak heran jika julukan si anak sawah disematkan padanya mengingat darah yang mengalir ditubuhnya tak bisa lepas dari padi dan sawah.

Si anak sawah kini bertualang di kota besar, meninggalkan kampung dan sawahnya. Mungkin juga ia lupa dengan padinya walau tak pernah lupa menyediakan beras di rumah. Ketika pulang tak sempat lagi ia bercengkerama dengan padi. Membersihkan rumput dari pematang sawah atau memeriksa airnya. Menjaganya ketika musim panen tiba dari burung-burung pipit yang nakal. Tak pernah lagi ia merasakan gatal ditubuhnya ketika menjemur padi. Tak diingat lagi suasana hiruk pikuk ketika mengejar tikus sawah bersama orang sekampung.

Si anak sawah tidak sendirian, banyak teman sekampungnya yang juga merantau ke kota besar. Padi yang dulu begitu diandalkan agar orang-orang seperti si anak sawah bisa bersekolah tinggi kini malah ditinggal pergi. Hanya para orang tua yang setia merawat padi dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Kini tak nampak lagi wajah-wajah segar dengan tenaga kuat memanjakan padi di sawah. Uang dari kota lebih menggiurkan dibanding uang hasil menjual padi. Tak salah memang jika mengingat harga padi yang suka tiba-tiba anjlok disaat panen raya. Berbanding terbalik dengan harga pupuk yang menjulang tinggi ketika musim tanam tiba. Kondisi ini memaksa si anak sawah dan teman lainnya tak tertarik lagi untuk mengolah sawah menanam padi. Hanya berfoto bersama padi yang kini bisa dilakukan si anak sawah. Mungkin untuk mengingatkan dirinya bahwa pada suatu masa mereka berdua begitu dekat. Bisa juga hanya sekedar ingin menampilkan fotonya di fesbuk atau menceritakannya di blog.

CIMG1801

Sekilas tentang padi:
Padi dalam bahasa latin disebut Oryza sativa L. Padi termasuk dalam suku padi-padian atau poaceae. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM. Tanaman ini kini menjadi sumber karbohidrat yang penting bagi pemenuhan kebutuhan penduduk dunia.
Sumber : Wikipedia

2013-07-29-05

Tulisan ini diikutsertakan dalam “Giveaway aku dan pohon”

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

34 Balasan ke Padi Dan Si Anak Sawah

  1. Ryan berkata:

    ah jadi ingat pas dulu diminta gambar… pasti deh… dua gunung, jalan di tengah2, kanan kirinya sawah. hehehehehe. o iya… terus matahari di tengah2 gunungnya tuh.

    pernah main ke tempat teman di Sumedang. Ayahnya bekerja sebagai pemilk penggilingan padi. Pas di sana baru tahu… memang sawah kita banyak tapi jual ke mana-mananya murah banget… kasihan juga. kalau lagi ujan gede… gagal panen. kemarau panjang… gagal panen. dah gitu… biayanya dari nanam sampai giling juga gak murah. kurang banget bantuan dari pemerintah.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s