Wajah-wajah Bercerita

wajah

Masih cerita liburan Idul Adha kemarin, akang berkesempatan mudik lagi untuk merayakan Idul Adha di kampung halaman. Di kampung akang jika lebaran Idul Fitri pelaksanaan sholat Ied diikuti oleh seluruh penduduk kampung disatu tempat. Lapangan balai desa adalah tempat yang biasa dipilih sebagai tempat pelaksanaannya. Maklum saja didaerah perbukitan cukup sulit menemukan tempat lapang yang memadai untuk kegiatan seperti ini. Berbeda dengan lebaran Idul Fitri, pelaksanaan sholat Idul Adha dilaksanakan terpisah. Masing-masing dusun menyelenggarakan sholat Idul Adha di masjid jami. Dengan demikian acara sholat Ied terasa lebih sepi. Selain karena pelaksanaan sholat ied dipisah, memang antusiasme orang-orang tidak seperti lebaran Idul Fitri.

Namun hal ini tidak mengurangi ke-khidmatan Idul Adha kali ini. Malah akang lebih bisa menikmati ketika selesai khutbah Ied semua orang saling bersalaman. Orang-orang pun tidak terburu-buru melaksanakan salaman. Saat bersalaman itulah akang mencoba mengamati wajah setiap orang yang menyalami akang. Kebanyakan dari mereka adalah para sepuh di kampung akang. Teman sepermainan akang sendiri lebih banyak yang berada diluar kampung atau merantau entah kemana. Wajah-wajah itulah yang membangkitkan kenangan akang ketika masih kecil.

Seperti ketika memandang wajah Mang Endi, terbayang ketika dia mengajarkan cara membuat bubu (perangkap ikan) dibelakang dapur rumahnya. Akang bersama teman lainnya berusaha melakukan setiap perintahnya dengan seksama. Ada kebanggaan tersendiri ketika melihat bubu buatan sendiri telah selesai dibuat. Namun kini akang sangsi ada orang yang masih meneruskan keahliannya, maklum saja kini tak ada lagi orang mencari ikan disungai menggunakan bubu. Wajah-wajah terus berganti, Mang Engkos adalah orang tua dari seorang teman sekelas akang. Rumahnya berada dipinggir kampung hampir bersebelahan dengan hutan. Sehari-hari dia bekerja membuat gula merah yang terbuat dari pohon aren. Saat memandangnya seolah aroma gula terbakar langsung memenuhi udara. Telapak tangannya yang kasar mengingatkan kesabarannya mengaduk lahang (cairan bibit gula) yang direbus diatas wajan besar. Menurutnya lahang harus terus menerus diaduk agar tidak gosong dan menempel di wajan. Akang sendiri paling suka dengan lahang yang masih hangat namun belum mengental.

Pada umumnya para orang tua di kampung tak ingat persis siapa nama akang, yang mereka ingat ketika bertemu adalah akang anaknya Pak Ulis. Pak Ulis adalah sebutan yang disematkan kepada orang yang menjadi juru tulis desa. Ayah akang memang sebelumnya cukup lama menjadi juru tulis dikampung. Seperti Aki Anja yang tampaknya sudah tidak mengenal akang karena sudah tua. Dulu Aki Anja adalah seorang kulisi (mungkin pelesetan dari polisi) atau petugas keamanan kampung yang salahsatu tugasnya adalah menjaga saluran irigasi. Dia seorang tetua kampung yang ditakuti anak-anak karena perangainya yang keras. Suatu hari akang bersama beberapa teman kena damprat karena ketahuan mencari ikan di irigasi dengan cara membendung saluran air yang menuju persawahan.

Wajah-wajah terus berganti membawa ceritanya sendiri dibenak akang. Cerita lucu, sedih, gembira bercampur baur diiringi gema takbir yang terus berkumandang. Namun banyak pula wajah-wajah yang tidak akang kenal. Wajah-wajah baru penghuni kampung tercinta. Wajah-wajah pengisi cerita kampung yang berbeda dengan cerita akang. Mungkin salah seorang dari mereka adalah seseorang yang sempat akang gendong ketika bayi. Atau anak dari salah satu sahabat akang yang sedang bekerja diluar kampung. Begitulah wajah-wajah bercerita kepada akang. Entah cerita apa yang dituturkan wajah akang dibenak mereka. Semoga cerita yang baik dan bukan tentang kenakalan akang dahulu.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

20 Balasan ke Wajah-wajah Bercerita

  1. Ika Koentjoro berkata:

    Insya Allah yang diinget yang baik-baik kang ^^

  2. lieshadie berkata:

    Kayaknya di benak mereka mah..yang baik baik dari Akang..🙂

  3. duniaely berkata:

    juru tulis itu sama dgn carik dari lurah ya Kang ? atau sekretaris lurah ya ?

  4. Titik Asa berkata:

    Wilujeng wengi Akang…

    Janten emut zaman abdi alit keneh. Kalo liburan sekolah, saya habiskan di Jampang, pekidulan Sukabumi. Yg namanya bubu, lahang…akrab sekali di telinga saya. Oh iya, saya punya kebiasaan nyair ikan-ikan kecil yg ada di kali kecil. Ikan-ikan ini disebut berenyit atau bungkreung. Kalo sudah dapat banyak, dibawa pulang. Nenek yg masak bungkreung ini. Kalo gak di goreng, ya di pais. Aih nikmat pisan…

    Salam,

  5. eda berkata:

    keren pisan yah kang klo lebaran bisa pulang kampung. saya mah gak punya kampung😦 *curcol*

  6. Idah Ceris berkata:

    Sebutan kata jaman dulu unik2 ya, Kang. Polisi=Kulisi. Tulis=Ulis. Hihihihi

  7. Assalaamulaikum wr.wb Akang…

    Lama tidak menyapa di sini, nama panggilannya juga sudah berubah. Saya panggil akang jugalah ya. Sungguh, wajah-wajah yang kita kenal masa lalu mempunyai cerita tersendiri yang menghibur dan melarakan. Tentu sahaja mereka yang masih hidup dan mengenali kita juga mempunyai cerita tersendiri yang kita tidak tahu apa yang mereka fikirkan saat bertatap wajah,. Rasa bahagia apabila bertemu semula dengan mereka yang berada dalam zaman kanak-kanak kita dahulu.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.😀

  8. nyapurnama berkata:

    enak ya Kang kayaknya kalau merantau gitu terus pulang-pulang cuma pas kesempatan tertentu aja. Rasa kangen yang ditumpuk-tumpuk gitu kan indah.. Terus biasanya orang2 excited buat ketemu kita. Ah nasib nih kalau kayak aku kayaknya semua orang udah bosen katanya “si Nia lagi.. si Nia lagi” huahahaha =)))

  9. genthuk berkata:

    nostalgia masa lalu ternyata

  10. Orin berkata:

    wah…ternyata akang anaknya pak ulis toh :))

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s