Amit-amit Jabang Bayi

aajb

Saat keluar rumah bersama Gilang seringkali akang menemukan kejadian mengejutkan. Hari sabtu kemarin seperti biasa akang mengantar Gilang terapi di RS Hermina Bogor. Kami hanya berdua karena Si Uwa sedang repot membereskan rumah. Mulanya akang ingin mengajak Akbar sekalian namun niat itu urung karena Akbar belum bisa “duduk manis” didalam mobil jika melakukan perjalanan. Tempat terapi berada dilantai lima, saat menunggu didepan lift seorang wanita menyapa kami.
“Mau terapi ya Pak?”
“Iya Mbak” jawab akang.

Ketika itu pintu lift terbuka dan kami segera memasukinya.

“Udah gede ya anaknya, rambutnya juga makin tebal saja” ujarnya seperti seseorang yang telah kenal lama.
Akang pun hanya tersenyum sambil bertanya dalam hati siapa gerangan wanita itu. Belum sempat bertanya kami sudah sampai di lantai lima. Wanita tersebut tampak menuju poliklinik lain sepertinya hendak berobat.

Selesai terapi akang keluar dari ruangan. Tidak disangka wanita yang tadi bertemu juga telah selesai berobat dan kini ditemani sepasang suami istri yang terlihat sudah sepuh. Tampaknya wanita tersebut sedang mengantar salahsatu orang tuanya berobat disana. Melihat Gilang keluar dari ruangan terapi wanita tersebut kembali menyapa kami. Dia berkata dulu sering ketemu Gilang ketika Gilang masih digendong-gendong. Saat anaknya juga melakukan terapi tumbuh kembang disana. Kini anaknya sudah sekolah di sebuah sekolah dasar. Dari perkataannya akang tahu bahwa saat itu usia Gilang sekitar tiga tahun. Akang belum mempunyai kursi roda sehingga kemanapun pergi Gilang selalu digendong.

Akang sendiri tidak ingat samasekali dengan sosok wanita didepan akang. Selama tujuh tahun melakukan terapi berpuluh anak pernah akang temui ditempat terapi. Banyak diantaranya yang berhasil mencapai kesembuhan sehingga tidak melanjutkan terapi. Namun ada banyak pula yang berhenti karena menyerah atau merasa tidak puas dengan hasil yang dicapai. Pertemuan singkat dengan wanita tersebut mampu memaksa akang untuk sejenak merenungkan perjalanan bersama Gilang selama ini. Memang bukan perjalanan yang mudah, namun mengetahui banyak diantara teman terapi Gilang kini sudah mencapai langkah yang lebih tinggi membuat semangat ini terus menyala.

Cerita lain saat bersama Gilang juga terjadi ditempat kami terapi. Ketika itu Gilang dengan kursi rodanya didorong istri akang. Akang mengikutinya agak jauh dibelakang. Tiba-tiba Gilang berpapasan dengan seorang wanita hamil yang ditemani oleh ibunya. Setelah berpapasan dengan Gilang, ibu dari wanita hamil tersebut tampak kaget dan segera mengelus-elus perut anaknya yang hamil tersebut sambil berkata “amit-amit jabang bayi”. Sementara anaknya seperti keheranan akan kelakuan ibunya. Kejadiannya persis didepan mata akang yang memang sedang mengikuti Gilang.

Mendengar kata-kata tersebut akang hanya tersenyum sendiri. Akang tahu sang ibu samasekali bukan jijik atau tak suka melihat Gilang. Banyak diantara masyarakat kita yang masih percaya dengan mitos-mitos seputar ibu hamil. Diantaranya seorang ibu hamil tidak boleh memakai sandal terbalik atau beda warna. Seroang ibu hamil tidak boleh benci seseorang dengan berlebihan karena takut anaknya malah jadi mirip orang yang dibencinya. Seorang ibu hamil jika melihat hal-hal yang buruk atau jelek harus mengucapkan “amit-amit jabang bayi” agar apa yang dilihatnya tidak mengenai bayinya. Meski demikian mitos-mitos tersebut kini sudah banyak ditinggalkan oleh generasi selanjutnya. Terbukti dengan wanita hamil yang akang temui malah merasa heran atas kelakuan ibunya ketika bertemu Gilang. Sambil berlalu akang pun berdo’a semoga jabang bayi yang sedang dikandungnya diberi kesehatan dan kesempurnaan.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Cerita Gilang dan tag . Tandai permalink.

27 Balasan ke Amit-amit Jabang Bayi

  1. Ika Koentjoro berkata:

    Duh, amit-amitnya napa nggak dibatin aja sih. Bikin kegores nih yang denger. Sabar ya kang

  2. syifna berkata:

    Amien, semoga bumil dan bayinya di berikan kesehatan dan kesempurnan ya kang.
    kalau tentang bumil yang nggak boleh benci sama orang lain nanti anaknya mirip sama orang yang di benci itu entahlah mitos atau nggak tapi ada aja yang seperti itu kang, mitos atau karma yaa teu ngartos hehehe..

    Soalnya waktu ibuku mengandung aku, seneng bangeet sama India eeh sekarang anaknya doyan bangeet nonton film india ^_^

    Kunjungan balik kang 🙂

  3. Idah Ceris berkata:

    Eeeeeeeem, ngomong amit2nya gak bersuara kalik, ya. Hehehe
    Benar, sekarangmitos sudah mulai ditinggalkan, percayakan semua pada yang Kuasa.🙂

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s