Kopi Disabilitas

KOPI

3 Desember
Secangkir kopi di pagi hari itu. Dicangkir tanpa gagang yang patah entah kemana. Sebungkus kopi instan diseduh dengan air panas, diaduk dengan bungkus kopinya sendiri. Bukan karena tak ada sendok namun semua sendok terdekat dalam keadaan kotor. Sementara itu akang begitu malasnya untuk sejenak mencucinya. Perjalanan ke kantor pagi itu begitu melelahkan. Entah kenapa jalanan terasa lebih macet dari biasanya. Seakan akang lupa bahwa dalam sehari penduduk kota ini membeli ribuan motor dan ratusan mobil. Hanya dalam hitungan sehari, bisa dibayangkan jika jumlahnya dikalikan satu minggu, satu bulan dan tahun.

Disebuah perempatan yang dilewati pagi itu terpampang spanduk bertuliskan ajakan pemerintah setempat menjadikan kotanya menjadi kota layak untuk Disabilitas. Akang pun segera menyadari bahwa tanggal 3 Desember memang selalu diperingati sebagai Hari Disabilitas Internasional. Disabilitas yang sering diartikan sebagai kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan baik secara fisik dan mental. Para penyandang tuna daksa, tuna rungu, tuna netra, tuna grahita dan banyak lainnya dikelompokkan dalam sebutan disabilitas ini. Banyak pikiran berkecamuk setelah melihat spanduk tersebut sepanjang jalan hingga akhirnya berjumpa dengan secangkir kopi dikantor.

Jika akang begitu memikirkan tulisan spanduk tersebut sangatlah wajar mengingat akang sendiri sebagai salah satu orang tua dari anak yang termasuk kelompok disabilitas. Namun entah spanduk tersebut mendapat perhatian dari kebanyakan pengendara motor lainnya. Kemacetan Jakarta di pagi hari seolah tak hendak berkompromi dengan ribuan spanduk atau baliho berisi iklan yang meminta perhatian. Walau bagaimanapun spanduk seperti itu tetap saja bisa mengingatkan bahwa pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya tak melupakan keberadaan para penyandang disabilitas.

Ditengah hiruk pikuk kota sebesar Jakarta, sebuah kepedulian sering menjadi barang langka. Tak jelas permulaannya, apakah kota ini anti sosial atau individu2 anti sosial telah membentuk kota ini. Persis seperti pertanyaan “duluan mana ayam sama telur?” . Tak perlu mencari contoh yang jauh untuk menjelaskannya. Pengalaman akang sendiri bisa dijadikan bahan renungan. Setelah menikah akang pindah untuk menghuni pondok mertua indah di Bogor. Suatu hari dalam perjalanan pulang kerja akang melihat seorang penyandang tuna netra berusaha menyeberang jalan. Jalanan yang macet membuat usahanya begitu sulit. Waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, tampaknya orang tersebut hendak pulang menuju rumahnya. Akhirnya seseorang membantunya menyeberangi jalan tersebut.

Setelah melihat kejadian tersebut, sepanjang sisa perjalanan akang terus saja memikirkan penyandang tuna netra tersebut. Berbagai pertanyaan muncul bagaimana jika suatu saat tak ada seorang pun yang menolongnya. Bagaimana jika mengalami kecelakaan. Nurani akang tak bisa begitu saja mengabaikannya. Beberapa hari kemudian di jam yang hampir sama, akang melihat lagi orang tersebut menyeberang jalan persis di tempat yang sama. Sesaat kemudian seorang pengendara motor berhenti untuk membantunya menyeberang jalan. Sementara akang sendiri hanya menyaksikannya tanpa berbuat apapun. Dalam perjalanan pulang akang berpikir mungkin setiap hari akan ada orang yang menolongnya. Bukankah tempat menyeberangnya adalah tempat yang ramai. Dalam hari-hari selanjutnya akang semakin sering melihatnya. Namun seiring waktu akang tak pernah lagi memikirkan tentang penyeberang tersebut. Pikiran akang seolah berkata bahwa itu semua hanyalah bagian dari hidup. Tak akan ada tuntutan apapun seandainya akang tak peduli dengannya.

Kembali ke cangkir kopi tanpa gagang yang akang gunakan. Saat pertama kali gagangnya patah akang begitu kebingungan dan merasa begitu tidak nyaman menggunakannya. Pikiran akang mengatakan ini adalah sesuatu yang tidak seharusnya. Cangkir tanpa gagang sungguh merupakan suatu bencana yang bisa mengurangi kenikmatan meminum kopi. Hari terus berlalu kini akang sudah tak peduli lagi bahwa cangkir tersebut kehilangan gagang. Bahkan meminum kopi tanpa kehadiran sebuah sendok tak menjadi masalah berarti. Bisa jadi seperti itulah hari-hari di kota ini membuat orang semakin kurang peduli terhadap lingkungannya. Sehingga tak heran jika kepedulian untuk penyandang disabilitas hanya menggema di tanggal 3 desember.

Secangkir kopi di pagi hari tanggal 3 desember telah membuat otak akang ngelantur tak tentu arah. Akh mungkin bungkus kopi tersebut mengandung racun yang menyebabkan otak akang menjadi disabilitas.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

34 Balasan ke Kopi Disabilitas

  1. lazione budy berkata:

    hehe…, betul sekali.
    sudah jadi kesepakatan tak tertulis bahwa bungkus kopi punya tugas ganda sebagai alat pengaduk kopi. semua kopi holic pasti pernah bahkan sering melakukannya.
    bungkusnya lebih addicted ketimbang cafeinnya.
    >.<

  2. Ika Koentjoro berkata:

    Tersentil nih Kang. Semakin disibukan aktifitas diri sendiri semakin kurang peduli dengan lingkungan. Mengejar kepuasan diri itu tak pernah ada kata cukup ya Kang.

  3. duniaely berkata:

    jadi merenung baca postingan di atas kang

  4. Iwan Yuliyanto berkata:

    Selamat Hari Disabilitas Internasional.
    Semoga pemerintah kita juga tidak hanya bersemangat dalam menelurkan slogan, tapi juga melalui kampanye yang masif serta contoh nyata dari kita semua tentang bagaimana memanusiakan (baca: respect) kepada para disabel dan difabel.

  5. Titik Asa berkata:

    Rasanya memang benar Kang kalau orang semakin kurang peduli dgn lingkungan sekitarnya. Bahkan dengan tetangga sebelah pun terkadang sudah tidak saling kenal.
    Tragis atau memang begini perbawa masyarakat yang anggotanya kian egois?
    Ah entahlah…

    Saya siapkan kopi Kang, moga kopi yang saya seduh tidak mengandung “racun”…

    Salam,

  6. Orin berkata:

    ah akang, cangkir tanpa gagang dan sendok bungkus kopi ini jadi perenungan yg cukup dalam. Tapi memang ya kang, kadang kita ‘dipaksa’ terbiasa, pdhl kan bisa aja akang beli cangkir baru dan mencuci sendok, tapi yaa begitulah *teupararuguh*.

    Hatur nuhun sudah diingatkan kembali tentang kepedulian terhadap sesama ya kang..

  7. memang sih, tanpa gagang, cangkir gak enak. tapi gak masalah. saya juga sering minum kopi pake gelas. gak pake gagang pegangan. nerima apa yang ada. daripada susah2 cari cangkir dan nuangin lagi? nambah-nambhin cucian. jadi pake cangkir tanpa gagang itu dulu deh.
    BTW soal disabilitas, tuna grahita itu cacat apa ya?

    • abi_gilang berkata:

      Tuna grahita itu seseorang yang mengalami gangguan secara psikis (terutama perkembangan intelektualitas) tak beda jauh dengan Down Sindrome atau semacamnya.

      • oh, jadi keterbelakangan mental?
        hmmm … tuna grahita tertinggal dalam pelajaran dari anak normal. begitu juga anak-anak cacat lain. tapi bukan berarti mereka tidak berhak hidup atau sukses. Alloh sudah menciptakan mereka baik-baik. jadi kita selayaknya menghargai mereeka dan mendorong mereka agar hidup sukses juga.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s