Cerita Sibling-ku

sibling 1

Membaca postingan dari banyak emak2 blogger yang sering bercerita tentang kehidupan anak2nya sungguh menyenangkan. Hubungan keseharian kakak-beradik (sibling) adalah salah satu topik yang banyak diungkap. Tentang persaingan, tentang kejahilan, tentang kekompakan yang terjadi diantara mereka. Ada pula cerita tentang bagaimana repotnya mengasuh anak kembar. Dari blogwalking seperti ini akang juga banyak mendapat wawasan tentang bagaimana mengelola hubungan kakak-beradik pada anak. Ditambah dengan adanya komentar yang terjalin diantara penulis dan pembacanya terkadang menambah isi dari tulisannya sendiri. Hanya saja ada hal yang jarang akang dapatkan yaitu cerita sibling yang melibatkan anak berkebutuhan khusus. Lewat postingan ini akang ingin berbagi pengalaman tentang cerita sibling antara Akbar dan Gilang yang mengalami Cerebral Palsy.

Seiring usia akbar yang kian bertambah, semakin bertambah pula kemampuannya dalam segala hal. Kosakata dalam berbicara semakin bertambah walaupun hanya tahu kata “tadi” untuk mewakili semua kata lampau. “Tadi dede naik mbis panjang” berarti cerita sebulan yang lalu ketika akbar naik bis trans jakarta. Selain itu keinginannya juga semakin bermacam-macam, bukan hal aneh ketika tiba-tiba akbar pulang ke rumah sambil menangis karena ingin dibelikan mainan seperti punya temannya. Salah satu yang cukup merepotkan adalah rasa ingin tahu yang juga turut bertambah. Kata tanya seperti apa, kenapa dan siapa adalah kata-kata yang paling sering keluar dari mulutnya.

Suatu ketika akang menggendong Gilang, melihat ini akbar juga ingin digendong. Istri akang segera menawarkan diri untuk menggendong akbar namun akbar tetap ingin digendong akang. Istri akang memberi pengertian bahwa akang tak bisa menggendongnya sekaligus bersama Gilang. Akbar tak bergeming dan berkata “Aa jalan aja, dede gendong sama ayah”. Tampak jelas kecemburuan menghiasi wajahnya ketika akang tak juga mengabulkan keinginannya digendong bersama Gilang. Kejadian seperti ini berkali-kali terjadi sehingga kami dituntut untuk memberi pengertian kepada akbar. Terkadang akang iseng bertanya kepada akbar kenapa Aa Gilang nggak bisa jalan? akbar hanya bisa menjawab “Aa jatuh”.

Jika gilang dan akbar sedang bersama, terkadang gilang seketika menendang akbar. Hal ini tentu saja bukan kesengajaan, dalam keadaan terlentang dilantai kaki gilang bisa saja tiba2 menendangkan kakinya. Hal ini bisa disebabkan suara mengejutkan atau hal lain yang akang sendiri belum tahu jawabannya. Mendapat “gangguan” dari gilang seperti itu akbar akan membalasnya dengan memukul atau menendang gilang. Saat usahanya untuk melakukan pembalasan dihalangi maka akbar akan melawan dengan sekuat tenaga. Kalaupun tidak ada yang menghalangi maka pembalasan akan berhenti hanya jika gilang telah menangis.

Akang sering berpikir penyebab Akbar terkadang bersikap pendendam terhadap gilang. Kesimpulan akang sampai pada kebiasaan yang dilakukan selama ini. Jika “konfrontasi” terjadi biasanya akang dan istri akan memberi banyak “perhatian” kepada akbar. Mengatakan padanya untuk belajar meminta maaf, mengatakan bahwa Aa Gilang akan kesakitan jika dipukul dan banyak penjelasan lainnya. Satu hal yang kami lupakan adalah gilang. Seringkali setelah konfrontasi, gilang hanya diserahkan kepada Si Uwa untuk ditenangkan. Tanpa disadari perbedaan perlakukan seperti ini malah membuat akbar merasa dibedakan. Bisa jadi akbar berpikir apapun yang terjadi maka yang banyak mendapat “omelan” adalah dia sendiri sementara gilang tak pernah diperlakukan seperti dirinya.

Khawatir cara seperti ini tidak baik untuk perkembangan akbar maka kami melakukan perubahan sikap saat terjadi konfrontasi. Gilang selalu dilibatkan dalam usaha memberi pengertian kepada akbar. Kami dituntut membuat gilang dalam kondisi “sama” dengan akbar. Misalnya suatu kondisi menuntut gilang untuk menjadi pihak yang harus meminta maaf kepada akbar. Kami harus menjadi “wakil” dari gilang sambil memegang tangan gilang untuk bersalaman dengan akbar. Bisa jadi kami harus berpura-pura memberi omelan kepada gilang agar jangan menyakiti akbar. Hal ini dilakukan didepan akbar dengan harapan akbar tidak merasa dibedakan. Meski kenyataannya gilang tak mengerti samasekali apa yang dikatakan kepadanya.

Kini akang hanya bisa berharap semoga apa yang akang lakukan bersama istri mendapat hasil yang diharapkan. Mengatasi masalah sibling pada anak-anak normal saja memerlukan kesabaran. Maka terlebih lagi akang harus lebih mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah sibling pada anak yang salah-satunya menyandang Cerebral Palsy. Walaupun banyak teori tentang hubungan kakak-beradik yang tidak bisa diterapkan kepada gilang dan akbar namun secara garis besar pengalaman2 dari bloger2 lain tentang hal ini banyak menjadi masukan berharga buat akang sendiri.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Cerita Akbar, Cerita Gilang dan tag , . Tandai permalink.

20 Balasan ke Cerita Sibling-ku

  1. Pendar Bintang berkata:

    Sangat percaya Kang…engkkau luar biasa…
    Akan tetapi menurut buku-buku psikology anak yang pernah Hani baca memang jangan membedakan cara didik antara Gilang dan Aakbar kalau pun merek memiliki kebutuhan yang berbeda Kang agar Akbar maupun Gilang tidak merasa dibeda-bedakan juga.

    Aduuh….pokoknya sih, semoga harapan Akang dan istri terwujud ya….’
    Hani juga suka baca blog mak-mak yang cerita anak-anaknya…seru!

  2. ditter berkata:

    Jadi inget dulu…. Pas masih kecil, saya gampang cemburu sama kakak-kakak, hahaha… Padahal kenyataannya, orangtua saya lebih memanjakan saya, soalnya saya anak bungsu, hehe….

  3. Titik Asa berkata:

    Tulisan yg mengesankan. Jadi teringat kala 2 anak saya masih kecil. Usia mereka terpaut 1 tahunan. Karena ketika kakaknya berusia 8 bulan, si mamah ternyata sudah mengandung anak ke-2.
    Lucunya, mereka jadi seperti kembar saja. Walau jenis kelamin berbeda. Jadi kalau beli sepatu, baju atau peralatan sekolah ya mesti barengan. Nah kini mereka sudah besar. Yg gede lagi nyusun skripsi S-1 nya. Adiknya sudah kerja, dan dalam tahap akhir kuliahnya. Kalau kumpul di Sukabumi, masih seperti anak-anak saja cara mereka bercanda.

    Semoga Akang dan istri dapat mewujudkan apa yang Akang harapkan dan cita-citakan bagi kedua anak Akang tersebut.

    Salam,

  4. Idah Ceris berkata:

    Aaah, selalu ada cerita yang mengesankan. . .
    Jagoan2 Akang sudah besar, ya.

    Semoga Akbar kelak bisa lebih dewasa, seperti Gilang. Tetap semangat untuk Akang, Isteri, Uwa dan keluarga!

  5. dede wk berkata:

    salut kang.. jadi orang tua emang butuh kesiapan mental.
    mengajari anak dengan sikap bijak, adalah teladan yang baik

  6. Orin berkata:

    Aamiin…
    InsyaALLAH Akbar mah mengerti kang😉

  7. Iwan Yuliyanto berkata:

    Tetap semangat dalam proyek besar ini ya, insya Allah kelak mereka menjadi insan-insan yang bermanfaat. aamiin.

  8. lieshadie berkata:

    Semoga selalu di beri kesabaran yang lebih luas ya Abi…dan terwujud semua yang di harapkan…Amin..

  9. danirachmat berkata:

    Subhanallaah. InsyaAllah Akbar akan mengerti Kang dengan upaya yang Akang dan Istri lakukan. 🙂

  10. duniaely berkata:

    semoga harapan akang dann istri terwujud ya🙂

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s