Gandul

gandul

Pulang kampung menjadi salah satu cara ampuh dalam mendapatkan ide mengisi blog tercinta ini. Suatu ketika akang pulang kampung dan dalam perjalanan melihat pemandangan seperti terlihat dalam foto diatas. Anak sekolah bergelantungan dipintu kendaraan umum ketika pulang sekolah. Angkutan yang di kota disebut angkot maka karena berada di desa disebut dengan angkutan pedesaan (angdes). Angkutan dalam foto diatas mempunyai pintu samping untuk masuk penumpang. Dahulu mobil angdes yang biasa akang gunakan tempat masuk penumpang terletak dibelakang. Ketika kursi didalam sudah penuh maka penumpang yang tetap ingin naik terpaksa harus bergantung (gandul).

Bergantung pada mobil angkutan dilakukan bukan karena ingin terlihat berani oleh orang lain. Akang biasanya melakukan itu karena memang terpaksa. Ketika itu angkutan yang melintasi kampung masih jarang. Sementara itu kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak selepas Sekolah Dasar semakin tinggi. Alhasil dipagi hari ketika berangkat sekolah kami harus berebut angkutan untuk menuju sekolah lanjutan yang berada di kota kabupaten. Bergantungan di angkutan pun menjadi hal yang tak aneh dilakukan. Jika tak mau bergantung maka dipastikan akan ketinggalan masuk sekolah.

Revolusi roda dua (mengutip istilah Pak Dahlan Iskan) telah membuat segalanya berubah. Saat ini motor adalah kendaraan yang mudah untuk didapatkan. Hanya dengan uang beberapa ratus ribu kita bisa membawa pulang sebuah sepeda motor tentunya dengan memikirkan cicilan beberapa tahun kemudian. Kebutuhan masyarakat termasuk anak-anak sekolah akan kehadiran angkutan pedesaan menjadi berkurang. Kini tidak heran banyak orang tua tak segan membiarkan anaknya yang masih sekolah membawa motor sendiri ke sekolah. Dengan alasan lebih praktis dan tidak tergantung dengan jadwal angkutan yang tak tentu waktunya.

Akang sempat berbincang dengan supir angdes ini yang mengeluhkan semakin sulit memenuhi setoran setiap harinya. Anak sekolah yang menggunakan angkutan umum semakin berkurang. Ibu-ibu yang ke pasar lebih banyak diantar menggunakan motor. Barulah saat pulang dari pasar banyak ibu-ibu yang menggunakan angdes. Hal ini karena belanjaan yang banyak tak memungkinkan untuk pulang naik motor. Entah berapa tahun lagi foto seorang anak sekolah harus menggantung pada angkutan umum masih terlihat lagi dikampung akang.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

7 Balasan ke Gandul

  1. Ping balik: Nasib Pelajar Ujung Aspal | Belajar Kehidupan

  2. duniaely berkata:

    jd inget pas ke kampung halaman kemarin kang, Motor ada di mana mana, meraung raung, serem😦

  3. Titik Asa berkata:

    Nah, Kang keadaan seperti begitu masih terlihat di Bekasi saat jam pulang sekolah. Yg lebih gawat lagi di Bekasi anak2 sekolah seperti “dimusihi” oleh sopir angkot karena kan bayarnya setengah harga. Jadi anak2 sekolah baru diangkut kalo penumpang sudah agak penuh. Atau ya bergelantungan anak2 sekolah itu seperti foto diatas.

    Kejadian sehari-hari di Bekasi itu yang akhirnya saya memutuskan anak2 saya untuk bersekolah di Sukabumi sejak SMP. Satu demi satu anak saya pindah ke Sukabumi, dititip di rumah kakeknya. Eh, akhirnya menarik semua keluarga saya untuk pindah ke Sukabumi sampai hari ini.

    Demikian sekedar berbagi Kang.

    Salam,

  4. danirachmat berkata:

    Jadi inget dulu juga suka “nggandhol” gitu Kang pas masa sekolah di Rungkut.

  5. Iwan Yuliyanto berkata:

    Mereka juga sama-sama butuh … sopir angdes ngejar setoran, anak sekolah gak mau nunggu lama. Dilema memang ya, kang.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s