Nasib Pelajar Ujung Aspal

gandul

Masih berlanjut dari postingan sebelumnya, kali ini akang bercerita tentang masa-masa sekolah. Kampung akang terletak di ujung jalan dari arah kota kabupaten. Waktu itu jalan beraspal berakhir di kampung akang. Angkutan umum yang dari arah kota pun berputar balik disana. Angdes menjadi alat transportasi andalan untuk masyarakat terutama pelajar seperti akang. Jarak tujuh kilometer menuju kota bisa ditempuh 20 – 30 menit dengan ongkos Rp 100,- (seratus rupiah). Walau seringkali harus gandul namun karena tak ada pilihan lain maka yang bisa dilakukan hanyalah menikmati saja perjalanannya. Dahulu jarang ditemui angkutan bak terbuka untuk bisa ditumpangi saat berangkat atau pulang sekolah. Tidak seperti sekarang ini, akang sering melihat anak-anak pelajar mencegat mobil niaga atau truk terbuka untuk ditumpangi beramai-ramai.

Terminal tempat mangkal angdes berada ditepi kota. Perjalanan ke sekolah ditempuh dengan berjalan kaki karena kebetulan sekolah akang hanya berjarak 2 kilometer dari terminal. Untuk yang letak sekolahnya jauh dilanjutkan dengan menggunakan angkot. Nasib menjadi penghuni kampung ujung aspal sungguh berat terasa saat menjadi pelajar sekolah. Dipagi hari, angdes akan menghabiskan dulu pelajar yang berasal dari kampung2 yang lebih dekat ke kota. Sehingga akang dan kawan lain sekampung akan mendapat angkutan terakhir menuju kota.

Disiang hari saat pulang sekolah perjuangan masih menanti di terminal angdes. Ongkos pelajar yang hanya seratus rupiah (jauh-dekat) membuat pelajar menjadi tersisihkan. Sedangkan ongkos non pelajar untuk jarak dari terminal ke kampung ujung aspal 250 rupiah. Saat pulang sekolah, angdes yang ngetem pasti akan meminta pelajar yang kampungnya jauh untuk menunggu terlebih dahulu. Para supir hanya menaikkan pelajar2 yang kampungnya paling dekat. Setelah habis berlanjut ke kampung yang lebih jauh, dan dipastikan akang bersama teman sekampung akan mendapat giliran paling akhir. Jika pulang seorang diri maka akang harus tahu diri untuk menunggu teman pelajar lain yang sekampung. Seringkali kami hanya boleh naik setelah terkumpul tiga orang yang sekampung. Jika sedang beruntung ada penumpang dewasa yang menuju kampung ujung aspal maka barulah akang berani naik angdes yang sedang ngetem.

Kejadian yang menyedihkan adalah ketika akang “dikerjain” oleh calo terminal. Supir angdes yang ngetem biasanya terima beres ketika mobilnya kebagian rit. Calo-lah yang bertugas menaikkan penumpang dan memimta ongkosnya ketika angdes hendak jalan. Agar angdes cepat penuh calo sering menaikkan penumpang pelajar yang ada walaupun dia tahu pelajar tersebut menuju kampung ujung aspal. Suatu ketika calo menyuruh akang menaiki angdes yang ngetem dan dia bilang bahwa angdes akan sampai ke kampung ujung aspal. Diperjalanan ketika semua penumpang lain telah turun tinggalah akang sendirian didalam angdes. Sopir pun bilang bahwa dia hanya sampai ditengah jalan karena ada penumpang yang hendak menuju arah kota. Akhirnya akang diturunkan ditengah perjalanan berjarak 3 kilometer lagi menuju kampung ujung aspal. Sopir berjanji akan menitipkan akang pada teman sopir lainnya yang menuju kampung ujung aspal. Sambil menunggu angdes yang lain akang pun berjalan menuju rumah. Namun hingga tiba dirumah, angdes yang dinanti-nanti tak kunjung datang.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

10 Balasan ke Nasib Pelajar Ujung Aspal

  1. Ika Koentjoro berkata:

    Perjuangannya luar biasa Kang. Mudah-mudahan hasilnya pun luar biasa ^^ Ngebayangin 2 kilo bolak balik aja udah capek rasanya ^^

    • abi_gilang berkata:

      Mungkin makin kesini akang makin manja, kalo pulang kampung dan lewat sekolahan dulu suka mikir koq dulu jalan segitu jauh rasanya biasa aja. Kl sekarang jalan ke depan komplek yg cuma beberapa ratus meter maunya naik ojek:mrgreen:

  2. lieshadie berkata:

    Buat Akang..mudah2an segera punya angkot sendiri, jadi gak harus jalan sampau ke rumah, apalgi kalo pas sama keluarga kan repot banget…

  3. danirachmat berkata:

    Waaaaah. Luar biasa Kang. Kalo saya dulu daripada kehabisan angkot akhirnya lebih milih ngonthel sepeda.. Hehehe

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s