Hanya Sebuah Renungan

ride safely1

27 Desember 2013, 07.00 am

“Braak”
Sekonyong-konyong beberapa kendaraan didepan akang berhenti mendadak ditengah kepadatan arus lalu lintas. Seorang pengendara motor terkapar dan terlempar dari motornya. Akang tak tahu persis apa yang telah terjadi namun insting akang mengatakan akang harus segera berhenti menolong pengendara tersebut. Tiga orang pemotor lain juga turut berhenti untuk menolong. Dua orang penolong segera menghampiri korban sementara itu akang mengamankan motor korban beserta tas yang tergantung di motornya. Di ibukota bukan hal aneh jika terjadi kecelakaan menimpa seseorang namun masih ada saja orang yang malah tega mencuri barang2 milik korban. Korban segera dipindahkan ke pinggir jalan agar tidak membuat arus kendaraan makin tersendat.

Korban ternyata seorang wanita yang tampaknya hendak menuju tempat kerjanya. Terlihat luka lecet karena goresan dengan aspal pada lutut kiri dan tumit kaki kanan. Sesampainya di trotoar dia masih tidak sadar. Seorang pemotor lain akhirnya bisa membuat korban tersadar dengan memijit pergelangan tangan korban. Seorang pemotor lain berhasil mencegat mobil yang terlibat kecelakaan. Sopir mobil pun datang menghampiri korban untuk melihat kondisinya. Ternyata kecelakaan tersebut diakibatkan motor bersenggolan dengan sebuah mobil kijang inova. Motor dan mobil yang terlibat kecelakaan sama2 berjalan dari arah jalan TB Simatupang. Menjelang perempatan dibawah flyover lebak bulus, motor hendak berbelok ke kanan menuju Pondok Indah sedangkan mobil hendak berbelok ke kiri menuju arah ciputat. Entah siapa yang kurang konsentrasi hingga menyebabkan kecelakaan pun terjadi.

Korban yang dibaringkan di trotoar akhirnya siuman dan terlihat begitu shock. Kami memberinya minum yang didapat dari seorang pengemudi angkot yang lewat. Setelah terlihat tenang kami mulai menanyakan siapa keluarganya yang bisa dihubungi lewat telepon. Korban berusaha mengingatnya dan menyebut sebuah nama untuk dihubungi. Akang pun mencoba mencari dari ponsel yang diberikan oleh korban. Seorang penolong mencoba menghubungi nama yang baru saja disebutkan korban. Menurut korban orang tersebut adalah pacarnya. Sayangnya setelah berkali-kali di telepon nomor yang dimaksud tidak ada jawaban. Saat ditanya nomor lainnya yang bisa dihubungi, korban terlihat kebingungan. Menurutnya jika melepon ayahnya nggak mungkin di angkat karena sedang berada diluar kota. Ketika disarankan menelepon ibunya, dia juga menolak dengan alasan ibunya sedang sakit dan takut membuatnya khawatir. Begitu pun ketika kami tanyakan nomor telepon tetangga atau siapapun yang bisa diminta tolong sang korban hanya menggeleng bingung.

Akang dan dua penolong lain bingung apa yang harus dilakukan. Kami menawarkan diri untuk mengantarnya ke tempat kerjanya. Rencananya korban dibonceng bareng akang sedangkan motornya dibawa oleh seorang penolong lain beriringan. Namun ide tersebut ditolaknya sambil tetap berharap pacarnya segera merespon panggilan teleponnya. Sementara itu sopir mobil meminta segera ada kesepakatan yang dibuat mengingat dia seorang sopir pribadi yang hendak menjemput bos-nya di ciputat. Jika sampai terlambat dikhawatirkan akan membuatnya dipecat dari pekerjaannya. Kesepakatan akhirnya dibuat, sopir menitipkan KTP nya beserta sejumlah uang untuk korban. Korban pun memutuskan untuk memaksakan diri pulang ke rumahnya. Walau ada rasa khawatir, akang bersama penolong lain tak bisa mencegahnya karena masing2 orang juga sedang menuju tempat pekerjaan masing2.

Renungan atas peristiwa yang terjadi :

Kecelakaan seperti yang akang diceritakan diatas bukanlah kejadian langka dijalanan ibukota. Akang sendiri tidak setiap menemukan kejadian ikut menolong korban. Bahkan lebih sering cuek saat menemukan kecelakaan jika sudah ada orang lain yang membantunya. Hanya saja yang mengganjal dari kejadian tadi adalah begitu sulitnya menghubungi keluarga korban. Banyak pertanyaan dibenak akang apakah korban tidak mempunyai saudara, tetangga, teman atau siapapun yang peduli dengan dirinya. Apakah dia tak pernah berpikir bahwa dalam perjalanan dari rumahnya menuju tempat kerjanya mungkin terjadi hal yang tidak diinginkan seperti saat ini. Bahkan ketika diminta menghubungi tetangganya dia sempat berujar bahwa dia jarang bergaul bersama tetangga2nya. Namun pemikiran lain muncul, sebenarnya bisa saja dia mempunyai banyak keluarga atau teman yang bisa dihubungi. Hanya saja dia tak ingin merepotkan atau membuat khawatir orang2 tersebut. Kita mungkin merasa sebagai seseorang yang banyak teman padahal teman2 kita hanyalah teman didunia maya. Kita merasa akan selalu ada orang yang peduli dengan kesusahan dan kesulitan yang dihadapi. Hingga suatu ketika dihadapkan pada kejadian yang menuntut pertolongan nyata dari teman kita, barulah kita tersadar ternyata begitu sedikit orang2 disekitar kita yang bisa menolong kesusahan kita.

Kesibukan selalu membuat setiap orang dikejar waktu sehingga setiap detik terasa begitu mahal. Dari sekian banyak pengendara yang melihat sebuah kecelakaan tak banyak yang bersedia mengorbankan sedikit waktunya untuk sekedar menolong. Cukuplah sebuah prasangka bahwa pasti akan ada orang lain yang menolongnya atau setidaknya akan ada polisi yang membantunya. Kepedulian hanya menjadi kata yang sulit dilakukan dalam kehidupan nyata. Kita bisa dengan mudah peduli pada kicauan teman dunia maya tentang kesulitannya. Namun ketika menemukan seseorang tak sadarkan diri dipinggir jalan, “insting ibukota” seringkali mendahului pemikiran. Insting ibukota yang akang maksud adalah kewaspadaan kita terhadap kejahatan yang mungkin mengancam diri sendiri. Bisa jadi orang tersebut memancing orang yang menolong untuk dirampok oleh temannya yang bersembunyi disuatu tempat. Kalaupun kita menolong takutnya nanti disuruh jadi saksi oleh pihak berwajib, tentunya hal ini akan sangat merepotkan. Beribu alasan akan membuat kita memilih “lebih baik pura2 tidak melihat dan melaju seperti tak terjadi peristiwa apapun”. Masih ingatkah peristiwa heboh yang terjadi di Cina ketika seorang bayi tertabrak dan beberapa orang yang melihatnya tak melakukan tindakan pertolongan apapun. Bukan tak mungkin suatu ketika kejadian serupa tertangkap kamera CCTV di ibukota ini.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

5 Balasan ke Hanya Sebuah Renungan

  1. duniaely berkata:

    semoga msh banyak org yg peduli Saat ada kejadian spt yg di atas ya kang

  2. izzawa berkata:

    ketika saya berpergian sendiri saya juga sering kang untuk mencantumkan nomor penting diurutan paling atas dan hpnya gak pake kunci takut kalau ada apa-apa kan….
    satu hal lagi saya dulu juga pernah melihat kecelakaan sepeda motor yang terpelanting karena disenggol mobil,,,namun para pengendara cuek saja dan membiarkan korban tergeletak begitu saja…kebetulan saya waktu itu lagi di atas kendaraan umum,,,dan juga tidak bisa berbuat apa-apa..
    semoga saja tak banyak yng seperti itu ya kang

  3. danirachmat berkata:

    Kaaaang, bisa membayangkan dan bersimpati merasakan kejadian yang Akang ceritakan. Daerah itu kebetulan juga jalur saya berangkat dan memang ngeri kalo sudah terburu-buru waktu. Seakan orang tidak peduli keselamatan..

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s