Kere – Keren – Nyogok (KKN)

koruptor

Malam mingguan kemarin diisi dengan acara nonton bersama istri. Salah satu kegiatan yang jarang bisa dilakukan berdua bersama istri. Selama menikah hampir delapan tahun ini adalah kali kelima kami nonton di bioskop. Bahkan akang ingat semua judul film yang ditonton, tentu saja karena saking sedikitnya. Film Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, Ketika Cinta Bertasbih (1 dan 2) dan yang terakhir adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Tanpa dijelaskan pun pasti sudah tahu “benang merah” dari semua film2 ini. Semua film tersebut diangkat dari novel yang tentu saja telah akang baca sebelumnya. Kesempatan nonton kali ini juga tak lepas dari liburan sekolah yang sedang berlangsung. Beberapa keponakan menginap di rumah sehingga akbar dan gilang ada yang menemani bermain. Inilah yang menjadikan kami tak terlalu khawatir meninggalkan mereka untuk bermalam mingguan (suit…suit he he).

Keinginan menonton sebenarnya datang dari istri yang penasaran dengan kehebohan sebuah film berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa. Dia mendengar obrolan rekannya yang sudah menonton film tersebut. Namun ketika mencari info di surat kabar akang malah menemukan sebuah judul film yang menarik perhatian. “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” sebuah judul novel karangan Buya Hamka yang pernah akang baca selain “Dibawah Lindungan Ka’bah”. Melihat antusias suaminya yang langsung nyerocos tentang novel ini membuat istri akang menyetujui untuk berpindah judul. Semula kami berencana nonton saat libur natal namun ketika itu kami tak kebagian tiket. Justru ini membuat kami semakin penasaran dengan film yang ingin kami tonton. Dan akhirnya keinginan kami terlaksana dihari sabtu siang kemarin.

Selajutnya akang tak ingin membuat review tentang film tersebut. Akang cukup tahu diri untuk tidak melakukannya mengingat akang bukan seorang penyuka film yang baik. Akang hanya teringat masa-masa kuliah dahulu. Cerita yang berbeda dengan yang akang alami setelah menikah. Saat kuliah akang cukup sering menonton di bioskop. Setidaknya dalam satu bulan ada satu malam minggu yang akang lewatkan untuk menonton bersama teman kuliah. Bukan dengan pacar, maklum saja waktu kuliah akang termasuk jomblo tulen. Motivasi menonton lebih besar karena tak ingin ketinggalan up date jika ngobrol bersama teman lainnya. Rasanya bakal keren jika teman2 membahas film terbaru dan akang bisa ikut nimbrung.

Salah satu bioskop dan tempat nongkrong yang paling happening di Bandung saat itu adalah Bandung Indah Plaza. Posisinya pun tak begitu jauh dari tempat kosan akang, cukup dua kali naik angkot. Satu yang menjadi ganjalan adalah ditempat tersebut harga tiket nonton selalu lebih tinggi dari tempat lainnya padahal masih sama2 “studio dua satu”. Akang masih ingat saat itu di daerah Cimahi masih ada bioskop dua-satu yang tiketnya seharga 3500 rupiah. Sementara di BIP sudah mencapai enam hingga tujuh ribu rupiah (kalo nggak salah inget). Bagi akang yang sering mengalami syndrome kantong kering harga tersebut cukup membuat muntah. Keinginan menjadi keren namun kondisinya kere membuat akang dipaksa mencari cara untuk mengatasinya.

Dan caranya adalah…. jreng jreng jreng !!!

Ide ini datang dari teman akang sendiri. Entahlah dia sendiri mendapat ide dari mana untuk menonton di bioskop keren dengan harga kere. Saat pertama kali melakukannya akang bersama dua orang teman lain tak diberitahu modusnya. Kami hanya datang ke bioskop dan memilih jam tayang terakhir dari judul film yang ingin ditonton. Penayangan terakhir dari setiap judul film biasanya sekitar jam sembilan malam. Akang merasa heran karena jika memilih jam tayang terakhir dipastikan saat pulang harus berjalan kaki cukup jauh. Angkot yang menuju tempat kosan hanya beroperasi sampai jam sepuluh malam. Kami tiba setengah jam sebelum jam tayang dimulai. Namun si pemilik ide malah melarang kami untuk segera mendatangi loket penjualan tiket. Dengan penuh tanya kami hanya menurut dan menunggu tanpa kejelasan.

“…Perhatian perhatian, pintu studio satu telah dibuka, bagi anda yang telah memiliki tiket harap segera memasuki ruangan studio…”

Pemberitahuan terdengar dari speaker saat film hendak dimulai penayangannya. Namun kami masih tetap saja disuruh menunggu dengan tangan kosong tanpa tiket. Loket tiket telah ditutup, kami semakin bingung dengan kelakuan teman kami yang masih tenang tanpa dosa. Setelah sepuluh menit berlalu teman akang itu tiba2 pamit sebentar dan memimta kami tetap menunggu. Kami semakin bingung dengan permintaannya dan hanya bisa mengiyakannya. Beberapa saat berlalu tiba-tiba dia datang dan menyuruh kami masuk ke studio. Seorang petugas keamanan yang menjaga hanya tesenyum ketika akang dan teman-teman masuk studio. Ternyata teman akang telah melakukan “negosiasi” dengan petugas keamanan. Dengan berpura-pura datang terlambat karena macet, teman akang meminta “kebijaksanaan” penjaga untuk memperbolehkan kami masuk. Tentu saja ada imbalan yang harus kami keluarkan untuk kebijaksanaan tersebut. Sepuluh ribu rupiah adalah harga yang dianggap pantas untuk semua pihak agar transaksi berjalan lancar. Akhirnya kami berempat sukses membeli tiket kere untuk pertama kalinya dengan cara nyogok (menyuap).

Setelah usaha pertama berhasil, usaha berikutnya tentu lebih mudah dilakukan. Modus yang dilakukan berkali-kali menyebabkan kami lebih kenal dengan penjaga keamanannya. Transaksi pun semakin lancar sehingga tak ada lagi modus pura2 terlambat datang karena macet. Penjaga keamanan sudah hapal jika kami datang beramai-ramai pada saat injury time. Harga menentukan posisi berlaku dalam kenyamanan menonton. Sebagai penumpang gelap akang jarang mendapat tempat duduk dengan posisi terbaik. Posisi yang biasa didapat adalah kursi penonton deretan paling depan. Otomatis selama menonton harus sedikit mendongakkan kepala karena layar yang cukup besar. Leher terasa pegal sepulang menonton adalah efek samping dari usaha kami. Pernah sekali waktu kami harus menonton dengan cara lesehan karena kursi kosong yang tersedia hanya dua sementara kami datang berempat. Perjuangan terakhir sebagai seorang kere yang kepengen keren adalah kami harus berjalan kaki untuk menuju tempat kosan.

Begitulah sekelumit kisah si kere yang ingin disebut keren walau harus nyogok. Padahal saat itu kebanyakan mahasiswa sedang mendengungkan gerakan anti KKN (korupsi kolusi dan nepotisme) sementara akang malah melakukannya. Untuk itu akang menghimbau agar cerita dalam postingan ini jangan dilakukan tanpa pengawasan ahlinya.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

24 Balasan ke Kere – Keren – Nyogok (KKN)

  1. Kopiah Putih berkata:

    Sudah kere, nyogok, pulangnya jalan kaki pula..
    Hahaha
    Mantap dah tulisan beginian, stimulus ke pembacanya kena banget..

  2. Titik Asa berkata:

    Baca ini jadi inget kalau saya sudah lama gak pernah nontong bareng istri. Oh iya saya juga sudah lama banget gak nonton di bioskop. Kebanyakan lewat laptop saja. Juga di Sukabumi sekarang gak ada lagi bioskop…

    Salam,

  3. Iwan Yuliyanto berkata:

    Praktik seperti ini banyak sekali di bumi pertiwi ini.

  4. duniaely berkata:

    wadewww .. petugasnya mudah disuap ya kang ?

  5. kak lisma berkata:

    ikutan ah..kyaknya asyik ni..numpang comment y gan..assalamualaikum..wr.wb..hahaa..fisikalnya emang keren..ahklaqnya yg kurang keren Gan..Gelap Gulita..wkwkwk

  6. nengwie berkata:

    Euuh akang ternyataaaaa hehehe

    Saya mah selama 11 thn di Jerman baru 3 kali mungkin nonton di Bioskop, maleees semuanya teh pake bhs Jerman, apalagi kalau kita teh tau suara aslinya si pemain, trs yg dabing jauh pisan aahh makin aja hoream😀

  7. Chrismana"bee" berkata:

    Hehehee,… itu karna masih ababil mungkin ya kang,…

  8. danirachmat berkata:

    Seru juga pengalaman nontonnya Kang. Hihi.
    Saya baru sekali nonton bareng setelah menikah Kang..😀

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s