Razia Tape Singkong

tape singkong

Rencana berlibur dikampung halaman akhirnya bisa terlaksana. Selepas bekerja dimalam pergantian tahun baru akang berangkat ke sumedang di hari rabu. Berangkat dari rumah selepas sholat dzuhur setelah merasa cukup tidur sepulang kerja. Sayangnya kali ini Si Uwa menolak diajak sehingga dengan terpaksa akang meninggalkan Gilang dirumah. Perjalanan pulang sangat lancar karena akang sudah sampai di tempat tujuan jam lima sore. Cerita liburan di kampung rasanya tak banyak berbeda dengan cerita kebanyakan orang . Silaturahim dengan keluarga di kampung adalah tujuan utama berlibur kali ini. Sekaligus memenuhi janji mengajak jalan2 keponakan yang sedang liburan sekolah.

Manusia memang hanya bisa berencana dan seringkali rencana tersebut harus berubah oleh suatu hal diluar kemampuan. Tiba-tiba saja istri akang “diharuskan” masuk kerja di hari sabtu, padahal rencana awal kami pulang di hari minggu. Sebuah keharusan yang tak bisa ditawar-tawar lagi apalagi untuk menolak. Beruntung akang telah menunaikan janji akang kepada para keponakan dan hari jum’at sore kami pun terpaksa pulang. Jam lima sore kami mulai perjalanan dari sumedang. Tidak seperti saat pergi, kali ini akang tak memilih melewati tol Cipularang. Akang merasa kangen melewati jalur puncak sekaligus ingin tahu suasananya di malam liburan seperti ini. Prediksi akang akan melewati jalur Puncak jam sepuluh malam. Dan masih berdasarkan feeling akang pada jam segitu tak akan macet. Perasaan akang semakin yakin karena perjalanan Sumedang-Bandung pun cukup macet dan jam sembilan akang baru sampe didaerah Padalarang.

Bagi yang terbiasa melewati jalur Bandung-Cianjur tak akan asing dengan deretan penjual tape gantung yang banyak terdapat didaerah padalarang. Istri akang tak ingin melewatkan kesempatan ini karena kami memang jarang melewati jalur ini sejak jalur tol Cipularang beroperasi. Dua bongsang (semacam kantong) tape singkong akhirnya menambah deretan oleh-oleh yang kami bawa dari kampung. Semerbak wangi tape yang merupakan bahan olahan hasil fermentasi segera memenuhi seluruh kabin mobil. Perjalanan pun kami lanjutkan, kali ini akang memacu kendaraan lebih santai dari biasanya karena merasa hari esok masih liburan. Sementara istri akang berusaha tidur sepanjang perjalanan agar esok hari siap untuk bekerja.

Diluar dugaan ternyata jalan di jalur Puncak masih macet padahal waktu menunjukkan jam 23.30. Akang memilih menepikan kembali mobil didepan sebuah warung dan beristirahat disana. Selain untuk beristirahat akang ingin merasakan suasana Puncak di malam hari. Selama ini Puncak terkenal mampu membujuk warga Jakarta untuk berbondong-bondong mendatangiya terutama disaat libur. Pemandangan kebun teh memang tidak terlihat dimalam hari namun memandang kota Bogor dan Jakarta di malam hari dari ketinggian Puncak sungguh sesuatu yang spektakuler. Semarak lampu-lampu menghampar luas tampak dari kejauhan. Memberikan cukup alasan bagi warga ibukota untuk memilih Puncak sebagai tempat tujuan berwisata.

Segelas susu jahe dan mie rebus cukup membuat akang kembali segar untuk kembali berkendara. Apalagi antrian mobil yang awalnya stuck sudah mulai lancar. Segera akang memacu kendaraan menuju arah kota Bogor. Memasuki daerah Bogor suasana benar-benar sudah sepi dari kendaraan yang lalu-lalang. Kendaraan semakin kencang dipacu agar segera tiba di rumah dan mengakhiri cerita liburan kali ini. Namun di jalur Bogor-Ciputat perjalanan akang terhenti oleh kegiatan razia yang dilakukan polisi setempat. Akang menepikan kendaraan ketika seorang polisi memberi tanda untuk menepi. Seketika insting akang teringat oleh cerita tentang adanya oknum polisi yang memasukkan narkoba secara diam-diam kedalam mobil ketika razia malam hari. Dengan kewaspadaan tinggi akang terus memperhatikan tangan petugas yang mendekat ke arah akang.

“Bapak berdua aja?” tanya Pak polisi, setelah membari salam dan menanyakan kelengkapan kendaraan.
“Bertiga sama anak saya Pak” jawab akang sambil memberikan SIM dan STNK.
Pak polisi tidak segera memeriksa SIM dan STNK yang diberikan. Dia malah mengarahkan lampu penerang ke jok bagian tengah. Sesaat kemudian dia memeriksa kabin bagian belakang dengan seksama, walaupun demikian dia tidak membuka pintunya. Akang cukup khawatir melihat apa yang dilakukannya karena melihat perangai pak polisi yang cukup waspada. Namun istri akang berpikir mungkin hal itu dilakukan karena sebelumnya ada berita penangkapan teroris di daerah Ciputat. Mendengar pemikiran tersebut akang mulai memaklumi dengan adanya razia kali ini. Bisa jadi hal ini dilakukan untuk mencari teroris. Ternyata dugaan akang salah karena ketika menyerahkan surat2 kendaraan, Pak polisi berkata “Maaf Pak, saya kira bapak mabuk karena saat membuka kaca mobil tercium bau seperti alkohol. Ternyata yang saya temukan bukan botol miras tapi tape singkong”.

Gubrak…..!!!!!

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

6 Balasan ke Razia Tape Singkong

  1. izzawa berkata:

    hehehe emang tape singkong itu baunya kayak alkohol ya kang??

  2. duniaely berkata:

    wadeww .. Salah sangka Ya kang😛

  3. dani berkata:

    Hahahaha. Ya ampuuuun Kaaang. Masa sih baunya sama. Hihihi.
    Jangan-jangan Pak Polisinya lagi ngidam tuh Kang.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s