Sedia Payung Sebelum Hujan

daun pisang

Di kota-kota besar, kehadiran hujan rasanya banyak menimbulkan kekesalan, kegundahan bahkan kemarahan. Orang-orang yang berangkat kerja menggerutu karena hujan menyebabkan jalanan banjir dan kemacetan tak terhindarkan. Bagi orang-orang yang tinggal didekat sungai, kehadiran hujan juga membuat hari-hari mereka diselimuti kekhawatiran akan datangnya banjir. Jalan yang macet juga membuat laju perekonomian turut terhambat. Seakan hujan adalah musuh bersama penduduk yang tinggal di kota-kota besar. Dipedesaan yang menggantungkan kehidupannya dari pertanian, akan ditemukan sikap yang berbeda dengan datangnya hujan. Hujan dianggap salahsatu hal yang menyebabkan mereka bisa hidup. Datangnya hujan dapat mengurangi beban mereka untuk mengalirkan air dari tempat-tempat yang jauh ke lahan pertanian mereka. Tanah yang basah juga akan lebih mudah untuk diolah. Tidak seperti lahan kering yang akan terasa keras ketika dicangkul.

Akhir-akhir ini hujan kembali mengguyur ibukota dan sekitarnya. Hujannya dimulai menjelang subuh hingga pagi hari, beberapa hari tetap berlangsung seperti itu. Bahkan beberapa wilayah yang sebelumnya tergenang bajir dan mulai menyurut kini terendam lagi. Memaksa para pengungsi untuk kembali memenuhi tempat pengungsian. Hal ini juga memaksa akang untuk berangkat kerja di pagi hari selalu mengenakan jas hujan. Semangat bekerja pun bisa drop bahkan sebelum akang sampai ditempat bekerja.

Diakhir pekan pun hujan masih saja setia menemani hari-hari akang. Akhirnya akang mengajak keluarga ke rumah mertua di bogor untuk sekedar menghilangkan kebosanan di rumah. Sesampainya di rumah mertua, hujan masih saja turun. Dan ketika sampai akang disuguhkan pemandangan yang cukup menarik. Sebagai seorang blogger langsung muncul ide untuk menambah postingan di blog.

daun talas

Seorang tetangga sedang bertandang ke rumah mertua akang dengan menggunakan daun talas untuk melindungi dirinya dari terpaan air hujan. Dalam hati akang merasa kaget juga jika disaat seperti ini masih ada aja orang yang menggunakan daun untuk digunakan sebagai pengganti payung. Ingatan akang langsung melayang ke masa-masa kecil dikampung. Jika diingat dulu rasanya jarang sekali akang mengeluh dengan turunnya hujan. Bisa jadi karena saat itu tak ada istilah “dikejar waktu” dalam keseharian akang. Dimana pun dan kapan pun hujan turun maka yang akang lakukan hanyalah menunggu. Kalaupun keadaan memaksa akang untuk melanjutkan perjalanan maka yang perlu dilakukan hanyalah memotong daun pisang yang hampir selalu ada disetiap pelosok kampung. Daun pisang yang lebar cukup digunakan untuk melindungi akang dari air hujan. Jika tak ada daun pisan maka daun talas lebar yang seperti digambar pun bisa digunakan.
Membandingkan sebuah payung dan sepotong daun bisa dijadikan pelajaran berharga bagi kita. Sebuah payung dibuat dengan menghaiskan begitu banyak sumber daya alam. Bayangkan saja untuk membuat sebuah payung, kita harus membuat beberapa pabrik. Pabrik yang akan menimbulkan polusi udara, polusi air bahkan polusi suara. Sebuah payung yang telah rusak dan tidak bisa digunakan dipastikan akan sulit terurai ketika menjadi sampah. Bandingkan dengan sebuah daun pisang atau daun talas. Sepotong daun memang tidak terasa nyaman ketika digunakan sebagai pengganti payung. Namun sebuah daun akan dengan mudah terurai ditanah ketika menjadi sampah. Sementara itu pohon pisang atau talas yang daunnya dipotong akan segera mengganti daun yang hilang dengan daun baru lainnya.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Sedia Payung Sebelum Hujan

  1. Noer berkata:

    Pake daun talas sebagai payung, jadi inget pepatah “tidak ada rotan akar pun jadi”…

  2. asmie berkata:

    Akang masih ada ya memakai daun talas? Keren. Klo di sini sudah susah nyarinya, hampir gak ada..😦

  3. Yudhi Hendro berkata:

    sepayung berdua memang romantis, apalagi kalau pakai daun talas atau pisang🙂

  4. Assalaamu’alaikum wr.wb Akang….

    Sangat nostalgik apabila ingat masa kecil dengan sesuatu yang sudah banyak hilang oleh teknologi kini. Saya pernah mengguna daun pisang sebagai payung saat hujan. Sudahnya, daun pisah dibuang dan lebih senang bermandi hujan. Selain itu, ada juga payung kertas yang sangat cantik ukitan dan bentuknya. Sekarang payung kertas sudah menjadi bahan hiasan.di rumah.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.😀

  5. syifna berkata:

    Kalau di kampung masih bisa lihat daun pisang buat payung kalau hujan hehehe ..
    nah, kalau di jakarta ? hihihi….
    dan kalau hujan begini nih … kudu bawa motor ati2, karena jalanan licin, dan mata saya yg minus cukup terganggu sama aer hujan🙂

  6. lazione budy berkata:

    pakai daun itu klasik banget, kalau hanya gerimis malah romantis.

  7. danirachmat berkata:

    iya ya Kang. jadi kangen berpayung daun pisang atau daun talas..

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s