Cerita Mudik dan Mitos

asongan1

Perjalanan mudik untuk kesekian kalinya harus akang jalani. Sebulan sekali akang berusaha meluangkan diri untuk menengok keadaan Bapak di kampung. Kali ini akang memilih pulang sendirian tanpa mengajak istri dan anak-anak. Oleh karena itu akang memilih menggunakan kendaraan umum daripada harus berkendara seorang diri. Berkendara tanpa mendengar celotehan Akbar dan Gilang akan terasa membosankan.

Sepulang kerja shift malam akang langsung memacu motor kearah terminal Lebak Bulus. Terminal ini memang baru saja ditutup terkait pelaksaan proyek pembangunan jalur monorel. Terminal yang biasanya dipenuhi ratusan bis setiap hari kini sepi. Hanya angkot dan bis dalam kota saja yang masih menggunakan terminal tersebut. Setelah menitipkan motor ditempat penitipan biasanya akang hanya tinggal berjalan sedikit untuk naik bis dari terminal. Kini akang harus berjalan lebih jauh untuk menaiki bis yang datang dari arah Ciputat menuju Bandung. Bis yang akang tumpangi adalah bis Prima Jasa jurusan Garut. Rencananya akang akan turun di pintu tol Cilenyi dan berganti kendaraan menuju Sumedang. Perjalanan menuju Bandung hanya ditempuh dalam waktu 2.5 jam dengan lancar (Alhamdulillah untuk tol Cipularang).

asongan4

Dari cileunyi biasanya akang naik angkot menuju kota sumedang namun kali ini akang lebih memilih naik bis. Naik angkot memang lebih nyaman namun akang nggak tahan dengan kebiasaan angkot yang sering ngetem hampir disetiap persimpangan jalan. Sayangnya akang malah dapat bis yang tidak dilengkapi dengan pendingin udara. Suasana didalam bis jauh berbeda dengan bis yang sebelumnya akang naiki dari Jakarta. Ketika bis ngetem, riuh para pedagang asongan hilir mudik menawarkan berbagai macam makanan dan minuman. Plester bermotif batik, permen jahe, onde-onde, jeruk ditawarkan kepada para penumpang. Bermacam mainan anak juga tak ketinggalan menggoda minat anak-anak. Sementara itu pengamen tak surut nyali berebut perhatian dari penumpang bis.

Suasana riuh tak membuat akang kesal apalagi melompat turun dari bis. Akang malah menikmati keriuhan yang ada disekitar akang. Menikmati hadirnya kembali kenangan yang sudah lama tak dirasakan. Melihat seorang anak merengek minta dibelikan mainan kepada orang tuanya, persis dengan apa yang dilakukan akang dulu jika diajak naik bis oleh orang tua akang. Kenangan ketika mencari lowongan kerja diberbagai kota yang didatangi dengan menumpang bis. Akang juga teringat dengan terminal bis Cianjur, terminal yang dikenal dengan pedagang asongannya yang ngeselin. Berbeda dengan pedagang asongan di terminal bis Leuwi Panjang di bandung yang lebih sopan dalam menawarkan dagangannya.
Bis yang akang tumpangi mulai melaju menuju arah Sumedang. Pedagang asong yang tadi memenuhi bis kini sudah turun. Tinggal seorang pedagang asong lagi yang tidak meninggalkan bis. Sesaat setelah bis berjalan dia langsung mengangkat karung dagangannya ke barisan depan dan mulai berkoar menawarkan barang. Ternyata dia menawarkan buah anggur yang telah dikemas dalam bungkus plastik.

asongan3

“Anggur bali … anggur bali, ceban … ceban”
“Ayo beli Mba, kalo ditimbang ini setengah kilo sebungkus. Dijamin manis”

Teriakan tukang asong tak henti menawarkan barangnya. Sebagai orang yang biasa naik bis akang sudah hapal dengan kebiasaan pedagang asongan seperti ini. Diawal mereka akang menawarkan dagangannya dengan harga yang cukup mahal. Namun semakin lama dan semakin mendekati tempat dia turun maka dipastikan harga yang ditawarkan akan semakin murah. Terbukti dengan pedagang anggur Bali ini, ketika pertama kali menawarkan harga anggur tersebut 10 ribu satu bungkus. Semakin lama harganya turun menjadi 15 ribu untuk pembelian dua bungkus. Melihat buah anggur yang ditawarkan akang sendiri ingin membelinya. Hanya saja akang akan membeli ketika harganya dianggap telah mencapai harga paling murah. Tidak sulit menentukan kapan akang harus membeli anggur yang diinginkan tersebut. Biasanya pedagang asongan seperti ini yang naik di Cileunyi akan turun di sebuah tempat yaitu pasar Tanjungsari. Nah ketika bis sebentar lagi menjelang pasar tanjungsari, akang pun membeli dengan harga 10 ribu untuk dua bungkus anggur bali.

Rupanya banyak penumpang yang saat itu naik bis juga mengetahui kebiasaan pedagang asongan seperti ini. Sehingga ketika harga telah mencapai 5 ribu untuk sebungkus anggur bali maka banyak penumpang yang juga ikut membeli. Bahkan sekarung anggur bali yang semula dibawa oleh padagang asongan langsung amblas habis tak bersisa. Beruntung akang masih kebagian dua bungkus anggur bali sebagai oleh-oleh murah meriah untuk keponakan di kampung.

asongan2

O iya ada satu lagi rahasia “umum” tentang kebiasaan yang dilakukan oleh para pedagang asongan seperti ini. Disaat hendak memulai berjualan didalam bis biasanya mereka menyembunyikan sebungkus barang yang dijualnya dibagian belakang bis. Entah itu berupa jeruk, salak anggur dan lain-lain. Tempat yang biasanya dipilih adalah dikolong kursi penumpang dibarisan paling belakang. Bisa juga ditempat menyimpan tas penumpang dibagian atas kursi yang biasa terdapat pada bis penumpang. Konon hal tersebut dilakukan merupakan mitos yang harus dilaksanakan agar jualannya berjalan lancar. Dan satu hal yang cukup aneh adalah bagaimanapun dagangannya habis mereka tak akan pernah menjual sebungkus barang dagangan yang disembunyikan tadi. Terbukti ketika akang memperhatikan penjual anggur bali yang baru saja akang beli juga melakukan hal yang demikian. Ternyata mitos yang ada bukan hanya isapan jempol belaka.

Begitulah cerita perjalanan mudik akang kali ini. Perjalanan yang membawa cerita berbeda. Cerita yang dicari-cari seorang blogger dari tiap perjalanannya. Happy blogging semuaaa….!

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

11 Balasan ke Cerita Mudik dan Mitos

  1. Wong Cilik berkata:

    wah saya juga baru tahu tentang mitos ini Kang. Akang termasuk pengamat yang baik ya … 😀

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, Akang….

    Menaiki bis sudah lama tidak saya lakukan setelah memiliki mobil sendiri. Kalau berpergian tanpa mobil, saya biasanya akan menaiki LRT (kereta api elektrik) atau teksi.Ingin juga merasai pengalaman seperti itu semula.

    Ternyata di sana banyak sekali penjual asongan. Sama seperti di Sarawak. Cuma penjual asongan ini selalu dilakukan oleh orang Cina. Jarang melihat bangsa lain berjualan di dalam bas. Harga jualan mereka tidak pernah surut seperti yang dikisahkan akang di atas. Tentu menjimatkan uang ya dan kita mendapat untung sekali.

    Mitos ini seperti juga “pelaris jualan” – hal ini bisa membawa kepada hal yang mensyirikkan Allah kerana percaya adanya benda seperti itu, jualannya jadi laris. Allahu akbar.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.😀

  3. nengwie berkata:

    Euuuh ada ya mitos yg begini…
    Hanjakal di pesawat teu aya tukang dagang asongan kieu hehee
    Eh aya ketaaang… Tp dugi ka mendarat, hargana teh tetep weee teu ngirangan😀

  4. Ryan berkata:

    jadi pedagangnya nurunin harga gitu kang?
    harus tahu waktu beli yang tepatnya dong ya.
    jadi ingat bus ngetem di Cileunyi sampe hampir 2 jam pas dari Sumedang. hahahahaha. dari ngantuk, sampe laper, sampe akhirnya ngantuk lagi, busnya belum jalan juga

  5. duniaely berkata:

    saya malah baru tahu ttg mitos ini kang😛

    btw, pasti foto fotonya byk ya dr mudik kali ini ?😛

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s