Jangan Ambil Putriku

Salah seorang rekan kerja akang sebut saja namanya Mas Tegar, tiba-tiba mengabarkan bahwa dirinya tidak bisa masuk kerja. Pemberitahuan yang mendadak membuat timbulnya prasangka yang bermacam-macam. Mungkinkah ada keluarganya yang meninggal, sakit atau mengalami kecelakaan lainnya. Rekan lain yang menerima pesan dari Mas Tegar juga tak mendapat informasi yang jelas tentang ketidak-hadirannya. Seharusnya Mas Tegar dinas malam tiga hari berturut-turut. Setelah satu malam berlalu, kembali keesokan harinya Mas Tegar member kabar bahwa dirinya masih tak bisa masuk kerja. Kali ini dengan alasan sakit. Alasan ini malah membuat kami semakin khawatir. Jarak dari rumahnya ke rumah sakit yang notabene tempat dia bekerja tidaklah jauh. Dalam keadaan lancar hanya dibutuhkan waktu setengah jam untuk mencapai rumah sakit. Kalaupun sakitnya parah sehingga tak bisa jalan maka bukan hal yang sulit bagi kami untuk meminta ambulan agar bisa menjemput kerumahnya. Pada malam ketiga, Mas Tegar masih belum bisa masuk kerja dengan kabar yang tetap saja samar.

Hari minggu yang lalu akhirnya Mas Tegar masuk kerja sesuai dengan jadwal seharusnya. Akang yang kebetulan sedang bertugas berusaha untuk menahan rasa penasaran atas apa yang selama ini terjadi. Raut muka Mas Tegar Nampak seolah baru saja melalui hari-hari yang berat. Akang pun bertekad menunggu hingga Mas Tegar betul-betul ingin mengatakannya sendiri apa yang telah terjadi.

“Maaf Mas kemarin saya tidak bisa masuk kerja, anak saya kabur dari rumah” Mas Tegar membuka pembicaraan.

Sejenak akang terdiam mencoba mencerna apa yang diucapkan Mas Tegar.

“Apa? Anak Mas Tegar kabur dari rumah?” akang sekali lagi menegaskan.

Mas Tegar menghela nafas seolah menenangkan diri untuk memulai bercerita.

“ Saya sendiri baru menyadari anak saya telah kabur dari rumah di hari senin jam 9 pagi. Saat itu teman sekolahnya menelepon kerumah, menanyakan keberadaan Mutiara (nama samaran). Istri saya langsung khawatir karena sehari sebelumnya dia baru saja memarahi Mutiara. Dihari minggu, selayaknya anak sekolah pada umumnya mereka akan merasa gembira melewatkan hari libur tanpa mengisinya dengan kegiatan belajar mengajar. Namun tidak demikian dengan Mutiara. Bahkan dihari minggu Mutiara lebih senang membaca dan belajar di kamar. Hal inilah yang membuat istri saya khawatir sehingga tanpa sadar memarahi Mutiara. Mencoba meminta agar Mutiara tidak terlalu banyak belajar dikamar dan mencoba kegiatan lain di hari minggu tersebut“
“Sebenarnya Mutiara adalah anak baik. Bahkan bisa dibilang terlalu baik diantara teman sebayanya. Justru istri saya sering ngomel-ngomel karena Mutiara jarang sekali mau bermain keluar rumah. Sifat Mutiara begitu pendiam dan lebih banyak menghabiskan waktu luangnya didalam kamar. Istri saya seringkali marah karena Mutiara sering menolak jika diajak mengikuti acara keluarga. Bukan hanya sekali dua kali, Mutiara hampir tak pernah mau diajak keluar rumah untuk sekedar berlibur misalnya. Hal ini menyebabkan saya dan istri saya khawatir tentang keadaan emosional anak saya.”
“Mutiara saat ini duduk dikelas 1 SMA , diusianya yang disebut sebagai masa pencarian jati diri membuat saya khawatir tentang kebutuhan bersosialisasi anak saya. Saya memang mengakui sulit untuk “mendekati” Mutiara. Saya pikir selama ini Mutiara lebih dekat kepada ibunya. Hingga kejadian kemarin membuat saya sadar bahwa kami memang bukan orang tua yang baik bagi Mutiara.”
“Saat menyadari Mutiara telah meninggalkan rumah saya tak henti mencarinya. Semua alamat teman sekolahnya didatangi satu persatu. Tak satu alamatpun saya lewatkan. Belum berhasil menemukannya maka pencarian diteruskan kepada alamat seluruh teman semasa Mutiara sekolah SMP. Dua hari berturut-turut saya mencari dari mulai selepas subuh hingga jam 2 dini hari keesokan harinya. Badan saya sempat ambruk dihari ketiga pencarian Mutiara. Namun demikian saya tetap memaksakan diri terus mencari Mutiara, apalagi setelah mendapat kabar bahwa Mutiara berada dirumah salahsatu temannya sewaktu SMP”
“Berpegang sebuah alamat didaerah kemang, saya mencari alamat teman Mutiara. Pukul 7 pagi hari saya berhasil menemukan rumah yang dimaksud. Sayangnya, menurut teman tersebut Mutiara telah pergi selepas subuh. Saya hanya terlambat 2 jam sejak kepergian Mutiara dari rumah temannya. Beruntung Mutiara sempat bercerita bahwa hari ini akan pergi kerumah salah seorang temannya. Tak tanggung-tanggung, alamat yang hendak dituju Mutiara ternyata berada di sebuah wilayah perbatasan antara kabupaten Subang dan Cirebon bernama Ujung Jaya. Dari teman Mutiara juga sempat didapatkan nomor telepon dan alamat lengkap yang akan dituju Mutiara. Yang menjadi kekhawatiran adalah ternyata teman yang dimaksud adalah seorang pria bernama Jahil (samaran) yang samasekali tak pernah dikenal dikeluarga saya. Apalagi ketika istri saya menelepon ke nomor tersebut, pemilik nomor tersebut samasekali tidak mengaku mengenal Mutiara. Padahal jelas-jelas nomor tersebut adalah nomor yang digunakan untuk menghubungi Mutiara melalui teman yang ditinggalinya. Dimulai dengan pembicaraan yang sopan hingga akhirnya istri saya bicara kasar tetap saja pemilik nomor telepon tak mengakui keberadaan Mutiara”
“Saya putuskan untuk segera mencari Mutiara ke Ujung Jaya sebelum malam tiba. Makanya saya tak peduli dengan kewajiban saya untuk masuk kerja. Saat itu saya berpikir biarlah saya kena sanksi asalkan Mutiara dapat segera ditemukan. Bersama istri, mertua dan beberapa orang kerabat saya langsung meluncur ke Ujung Jaya. Mencari alamat yang dimaksud ternyata cukup memakan waktu. Saya sampai di alamat yang dimaksud pukul 7 malam. “Penyergapan” berlangsung seperti adegan dalam film. Setelah memastikan rumah yang dimaksud saya mendatangi sebuah warung yang berada persis didepan rumahnya. Sementara itu mobil ditempatkan ditempat yang agak jauh dari sasaran. Saya pun berbincang dengan pemilik warung dan bertanya banyak tentang keluarga Jahil. Hingga pemilik warung mengatakan bahwa sore sebelumnya Jahil baru saja datang dari Jakarta dengan membawa seorang wanita. Saya langsung merasa yakin tentang keberadaan Mutiara dirumah tersebut. Bahkan pemilik warung hendak mengantar saya ke rumah tersebut namun saya tolak.”
“Rumah Jahil pun dikepung, mertua saya berjaga dibagian belakang rumah. Saya sendiri segera menuju teras rumah ketika melihat seorang pemuda keluar dari rumah tersebut. Saya langsung merasa yakin bahwa pemuda tersebutlah yang telah membawa Mutiara ketempat ini. Saya pun mengucapkan salam sambil mengajaknya bersalaman. Namun amarah tiba-tiba saja tak dapat saya tahan lagi. Saya langsung menghajar Jahil hingga babak belur. Setelah merasa puas saya langsung masuk ke rumah Jahil dan sosok yang saya cari tiga hari terakhir akhirnya muncul. Sontak saja orang tua Jahil dan beberapa orang tetangganya kaget mendengar keributan di rumah Jahil. Beberapa orang pemuda sempat hendak menyerang keluarga saya. Saya segera bertindak untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Saya katakan kepada orang-orang disana bahwa Jahil telah menculik anak saya. Saya meminta agar dihadirkan ketua RT disana untuk menjelaskan apa yang telah terjadi. Perbincangan panjang berlangsung hingga semua pihak mengerti kejadian yang sebenarnya.”
“Mutiara kembali ke pangkuan saya, dengan sebuah permintaan dari keluarga Jahil agar tidak melanjutkan perkara ini keranah hukum. Saya pun menyetujuinya dengan pertimbangan Mutiara telah kembali ditemukan. Hanya saja satu kejadian yang mengagetkan saya. Ketika bertemu pertama kali dirumah Jahil, Mutiara tampak tak mengenali saya dan ibunya. Bahkan selama pertemuan dengan pihak ketua RT, Mutiara tampak seperti orang bingung. Mertua saya mengusulkan agar Mutiara jangan langsung dibawa ke Jakarta. Dia mencurigai Mutiara “dikerjai” oleh Jahil entah dengan cara hipnotis atau diguna-guna. Saya mengerti dengan pemikiran orang tua yang masih percaya dengan hal-hal mistis. Kami putuskan berangkat ke Cirebon dengan maksud untuk “mengobati” Mutiara di rumah salah seorang kerabat. Sehari di Cirebon, Mutiara tampak telah kembali baik keadaanya. Akhirnya saya pulang ke Jakarta bersama Mutiara”
“HIngga saat ini saya belum berani bertanya banyak kepada Mutiara tentang alasannya pergi dari rumah. Tentang siapa Jahil dan begaimana mereka bisa saling berkenalan. Saya menginginkan Mutiara untuk menemui seorang psikiater terlebih dahulu. Saya takut salah bertindak jika terburu-buru untuk mengetahui semuanya saat ini”

Mendengar cerita Mas Tegar sungguh akang mendapat pelajaran yang teramat berharga. Kisah ini bukan tentang fakta-fakta apa saja yang terjadi. Akang sendiri tak berniat untuk menyajikan kisah ini dengan fakta lengkap seperti versi surat kabar. Tak semua fakta akang dapatkan dari kisah Mas Tegar untuk dikisahkan sebagai kisah utuh. Akang hanya menceritakannya sebagai sebuah pengalaman berharga yang harus akang ambil pelajaran darinya. Bagaimana perjuangan seorang ayah yang kehilangan “harta” yang paling berharga dalam hidupnya. Bagaimana sebuah kondisi bisa membuat seorang anak melakukan tindakan yang tak terkendali. Kisah ini semakin membuat akang menyadari memiliki anak adalah tentang sebuah tanggung jawab yang tak ringan.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

11 Balasan ke Jangan Ambil Putriku

  1. Turut bersyukur atas ditemukannya Mutiara. Semoga ini menjadi perhatian kita bersama untuk menjaga anak kita sekaligus selalu memohon perlindungan kepada Allah Swt.

  2. Orin berkata:

    Duh…kebayang gimana paniknya mas Tegar ya Kang..
    Alhamdulillah Mutiara sudah pulang dan baik2 aja, semoga ga terulang lg pada keluarga manapun

  3. nyapurnama berkata:

    astagfirullah, ngeri juga ya Kang sampai ada kejadian seperti itu, dan untungnya pencarian mas tegar membuahkan hasil yang baik. semoga kedepannya Mutiara bisa betul-betul pulih lagi dan gak kejadian lagi🙂

  4. Chrismana"bee" berkata:

    Alhamdulillah sudah ketemu ya, saya nggak bisa membayangkan bagaimana rasa teman si akang, semoga tetap diberi kekuatan kesabaran ketabahan

  5. Adduuuh..sangat memprihatinkan ya Kang. Semoga Mutiara terlindungi selama berada di tangan Jahil. Dan semoga ayahnya menemukan cara yang tepat untuk menjaga putrinya..

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s