Kampanye Pemberontakan

pemilu 2014

Postingan yang telat tentang hiruk pikuk Pemilu yang esok akan dilaksanakan diseantero negeri ini. Kampanye telah usai, masa tenang sebelum pelaksanaan hari pemilihan umum telah juga usai. Besok seluruh rakyat Indonesia yang “bisa” dan “berkehendak” untuk memilih wakilnya akan melaksanakan pemilihan di TPS masing2. Bukan kompetensi akang untuk mengomentari apapun dari pelaksanaan Pemilu kali ini. Akang hanya ingin menulis tentang pengalaman akang didunia politik-politikan (tentu bukan politik beneran) sewaktu kuliah dahulu.

Saat akang menimba ilmu di salah satu Akademi milik Departemen Kesehatan di Bandung tahun 1995-1998, akang melewati satu kali pemilihan umum.

Masa yang kini disebut sebagai masa Orde Baru. Saat dimana warna politik di Indonesia hanya terdiri dari warna Merah, Kuning dan Hijau. Persis seperti lagu pelangi-nya Bu Kasur. Di tahun 1997 Pemilu terakhir di era Orde Baru. Dengan menyandang status sebagai Mahasiswa, entah bagaimana akang bisa ikut-ikutan berpikir bahwa dominasi “si kuning” harus segera diakhiri. Sikuning yang menjadi kendaraan politik penguasa Orde Baru saat itu memang telah mendominasi disegala bidang. Walau dalam kenyataannya bisa jadi “si merah” dan “si hijau” juga hakikatnya adalah bonekanya sang penguasa.

Masa kampanye yang telah berlangsung berjalan dengan relatif aman dan lancar. Begitu pula bentuk kampanye yang mengerahkan massa (kampanye terbuka). Hampir tak terdengar adanya bentrokan antara pendukung satu partai dengan partai lainnya. Keadaan ini mungkin saja terjadi karena kesadaran berpolitik masyarakat yang telah lebih baik. Bisa juga terjadi justru karena masyarakat tak peduli dengan kegiatan pemilu itu sendiri. Apalagi sempat terdengar kabar bahwa banyak diantara masa pengikut kampanye terbuka sesungguhnya adalah masa bayaran. Keikut-sertaan mereka bukanlah karena loyalitas terhadap suatu partai tetapi hanyalah urusan uang belaka.

Jika mengingat saat-saat kampanye terbuka di jaman Orde Baru sungguh jauh berbeda. Ketika itu jika datang musim kampanye maka perasaan khawatir selalu muncul. Sering terjadi bentrokan diantara peserta kampanye yang berbeda bendera. Padahal waktu itu bendera hanya terdiri dari tiga macam, namun lebih terasa gregetnya saat musim kampanye tiba. Jumlah masa sebuah partai politik berbanding lurus dengan jumlah suara yang diperolehnya saat penghitungan. Begitulah pentingnya sebuah kampanye terbuka menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan Pemilu saat itu.

Sebagai sebuah kampus yang berada dibawah naungan Departemen Kesehatan, tentu saja diharapkan untuk ikut mendukung partai penguasa. Walaupun tidak disampaikan secara terang-terangan namun indikasi kearah itu benar-benar terasa. Akang bersama teman kuliah lainnya banyak yang menganggap bahwa hal tersebut harus diakhiri. Mahasiswa haruslah diberi kebebasan dalam menyampaikan aspirasi politiknya. Sebagai bentuk “pemberontakan” atas arahan pihak kampus untuk mendukung “si kuning” maka kami dengan sukarela malah ikutan kampanye terbuka “si hijau”. Berkeliling kota bandung sambil mengenakan atribut partai berlambang ka’bah seolah menjadi bentuk nyata “pemberontakan” kami saat itu.

Kini akang hanya bisa mengenang masa-masa itu. Reformasi telah mengubah segalanya. Banyak hal buruk di era Orde Baru yang hilang. Walau tak sedikit juga hal-hal baik yang ikut hilang. Dari Pemilu ke Pemilu berikutnya hanya harapan yang bisa tersampaikan semoga negeri ini menjadi lebih baik keadaannya.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

14 Balasan ke Kampanye Pemberontakan

  1. kutukamus berkata:

    Dulu atau sekarang, pemilu selalu punya banyak cerita, karena:
    “Partaimu pemodel seksi”
    “Pemilu pesta demokrasi”
    (anagram)😀

  2. Sudah selese ya kang euforianya🙂 tunggu kabar berapa caleg yang masuk RSJ ni🙂

  3. Orin berkata:

    Lumayan chaos sih ya Kang masa2 itu heuheu

  4. Okti berkata:

    walaupun dulu memang ada elemen tertentu yang diharapkan untuk memilih si kuning, apakah akan ketahuan kalau yang dipilih berbeda?

    • abi_gilang berkata:

      Menurut pengalaman sih pemilu diadakan hari kerja, trus di kantor2 pemerintahan itu biasanya 100% milih yang kuning. Kalo ada satu aja yang warna lain bisa kena damprat tuh pimpinannya:mrgreen:

  5. Erit07 berkata:

    Nostalgia ke masa dulu,berbeda banget dengan skg..

  6. Vicky Laurentina berkata:

    Dulu saya ngeri banget sama massa merah. Soalnya waktu jaman Orba itu partai merah direpresi habis-habisan. Akibatnya massanya ya rada preman gitu (meskipun saya tahu beberapa di antaranya adalah preman bayaran). Jadi kalau waktunya kampanye merah, saya mending diem di rumah..

  7. nyapurnama berkata:

    Dulu keadaannya semenegangkan itu ya kang?
    tahun-tahun segitu saya masih TK dan SD gitu terus yang diinget cuma betapa serunya kampanye jaman itu, simpatisan saat itu kan ikutan kampanye tanpa dibayar ya, yang penting seru dan bikin macet jalan..Saya juga sih..😀
    Mudah-mudahan pemilu kali ini membawa erubahan baik yang besar buat Indonesia ya Kang ^^

  8. nengwie berkata:

    Abdi kaping 5 April kamari kang, aamiin ya Robb….

  9. duniaely berkata:

    selamat nyoblos kang .. saya sih udah nyoblos duluan di sini😛

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s