Tangisan Dua Lelaki

Kondisi kesehatan bapak Akang dikampung yang tak kunjung membaik memaksa akang untuk sering pulang kampung. Hal inilah juga membuat akang sering meninggalkan keluarga. Diusianya saat ini Akbar cukup mengerti jika mendengar pembicaraan antara akang dengan Istri. Termasuk ketika akang berbincang tentang rencana pulang kampung minggu lalu. Mendengar akang hendak ke rumah neneknya, Akbar langsung meminta akang untuk mengajaknya. Keesokan harinya

Akbar terus saja menempel akang karena takut ditinggal. Walau sebenarnya mudah saja bagi Akang untuk “membohongi” Akbar bahwa akang hendak berangkat bekerja. Karena memang akang pulang kampung langsung dari tempat kerja. Namun akang ingin tetap mengasah ikatan batin Akbar dengan keluarga dikampung sana.

Saat berpamitan itulah Akbar menangis karena tak rela ditinggal pergi. Tangisan lelaki kecil yang didalam dirinya mengalir sebagian darah akang. Lelaki yang tak cukup mengerti mengapa ayahnya harus meninggalkannya. Lelaki yang masih rapuh dalam menghadapi roda hidup. Lelaki yang membutuhkan perlindungan terbaik dari kedua orang tuanya. Hanya saja tangisan itu tak membuat akang mengurungkan langkah untuk pergi. Tangisan itu adalah pertanda bahwa Akbar membutuhkan Akang. Tangisan sebagai pertanda nalar yang kian tumbuh dan berkembang. Tangisan yang tak menghadirkan lara dihati. Malah akang berpikir bisa jadi sesekali ketidak-hadiran Akang bisa membangkitkan sifat kemandirian Akbar. Tangisan itulah yang menjadi nyanyian pelepas kepergian akang.

. . .

Lelaki itu menangis melepas kepergian akang. Lelaki yang sebagian darahnya mengalir didalam diri Akang. Lelaki yang mulai dicabut kembali semua pengetahuannya hingga kembali seperti anak-anak. Tubuh yang kian rapuh semakin lemah membuatnya hanya bisa terbaring tak berdaya. Semua kata terpenjara dalam hati yang hanya bisa lolos lewat isyarat dan air mata. Tangisannya adalah penyesalan dan rasa bersalah karena merasa telah menjadi beban dalam kehidupan anak-anaknya. Rasa khawatir selalu muncul manakala harus meninggalkannya. Apakah air mata ini adalah air mata terakhir yang bisa akang lihat. Bayangan kematian selalu saja mampu menahan langkah akang berlama-lama memegang tangannya. Sekedar meyakinkan bahwa akang akan selalu ada disampingnya.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

3 Balasan ke Tangisan Dua Lelaki

  1. Putri berkata:

    kunjungan siang di bulan suci ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa. jangan lupa kunjungan baliknya ya

  2. ysalma berkata:

    lelaki yang sedang tumbuh dan tangisan lelaki yang telah mengantarkan lelaki memiliki generasi penerus berikutnya. semoga anak-anak tetap memberikan support buat lelaki itu untuk menjalani hari2nya dan disaat waktunya pulang dalam keadaan terbaik sebagai hamba-Nya.

  3. Setiap yang bernyawa akan kembali pada Nya.. kita semua akan melaluinya..

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s