Sekelumit Pagi

piala dunia

Saat bangun tidur pagi ini akang langsung menuju televisi yang telah menyala menemani istri yang sedang masak untuk sahur. Riuh suara penonton final piala dunia langsung terdengar. Sambil memicingkan mata, akang mengarahkan pandangan ke pojok kanan atas layar televisi. Pertandingan menginjak menit ke-70 namun skor masih nol – nol antara Jerman dan Argentina. Akang merasa beruntung masih bisa merasakan ketegangan pertandingan final sepak bola tesebut karena belum ada salah satu pihak yang telah unggul.

Bisa jadi akang termasuk penggemar sepak bola yang buruk yang tidak mau bangun lebih awal untuk menyaksikan pertandingan sejak peluit pertama dibunyikan. Bahkan bisa jadi akang melewatkan pertandingannya jika saat ini bukan bulan puasa.

Memang ada yang berbeda di bulan puasa kali ini yaitu berbarengan dengan diselenggarakannya putaran final piala dunia di Brazil. Alhasil tontonan sepak bola menjadi menu tambahan pada santapan sahur akhir-akhir ini. Dan pagi ini sepertinya merupakan tontonan bola terakhir yang bisa menemani sahur. Istri akang yang biasanya tidak ikut menonton sepak bola kali ini turut menemani. Dia tahu bahwa pertandingan tersebut adalah pertandingan final. Tahu kalau akang memfavoritkan timnas Jerman untuk menjuarai piala dunia, maka ia memilih Argentina sebagai negara dukungannya. Hanya satu alasan saja yaitu biar nonton bolanya lebih seru. Walaupun sedang tidak berpuasa namun istri akang tetap menemani akang sahur hingga menjelang waktu sholat subuh.

Sebagaimana diketahui semua penonton bahwa Jerman akhirnya berhasil menjadi juara dunia tahun ini. Satu gol dari Mario Goetze di babak perpanjangan waktu cukup untuk mengantarkan kemenangan bagi timnas Jerman. Pesta kemenangan masih bisa akang saksikan setelah tak sempat menonton acara penyerahan tropi yang harus dilewatkan untuk melaksanakan sholat subuh. Hiruk pikuk siaran piala dunia pun berakhir seiring kesibukan persiapan pagi ini untuk berangkat kerja. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah beberapa minggu libur kenaikan kelas. Kelengangan jalan Jakarta beberapa minggu terakhir sepertinya pagi ini tak bisa dirasakan. Kemacetan bisa terjadi karena orang-orang yang mengantar anak2nya dihari pertama sekolah dan orang2 yang kesiangan setelah menonton pertandingan final piala dunia semalam.

*Selamat beraktifitas dan selamat menjalankan puasa !

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Sekelumit Pagi

  1. Orin berkata:

    Wuiiihhh…jagoan akang menaaang he he.
    Suamiku malah cuma nonton beritanya aj Kang, coz di rumah pake TV cable, jd malah ga dapet siarannya. Tapi tumben dia ga beli antena UHF, takut kecanduan nonton katanya hihihi

  2. Dunia Ely berkata:

    Fajar ya kang di sana pas siaran berlangsung🙂

  3. araaminoe berkata:

    Assalamualaikum akang..
    Pa kbr nya? Puasa lancar? Semoga ya kang. Amin🙂
    Oh ya kang, mhn maap seblmnya, asmie mau nanya apakah alamat yg asmie kirimkan kmrn krg jelas? Krn takutnya nyasar kang.

  4. Ryan berkata:

    Hi Akang… pa kabar?
    Kangen Jakarta nihh kang, termasuk kemacetannya

  5. Chrismana"bee" berkata:

    Iya maceettt bangett tadi pagi

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s