Bersama Pak Jaelani (lagi)

Pak Jaelani 2

Pernahkah kita menjumpai sseorang yang ketika bertemu dengannya tiba-tiba kita merasa putaran waktu begitu cepat? Misalnya saat bertemu guru sekolah kita yang telah lama tidak bertemu, saat bertemu seringkali kita merasa seolah baru kemarin kita diajari olehnya dengan segala kenangan yang datang menghampiri. Begitulah yang akang rasakan ketika menemui seseorang bernama Pak Jaelani. Sebuah tulisan tentang Pak Jaelani pernah akang tulis disini . Tulisan yang ber-tanggal 6 Agustus 2013 ini terasa baru saja akang tulis. Tentang Pak Jaelani yang setiap bulan ramadhan mengikuti kegiatan i’tikaf di masjid dalam lingkungan tempat akang berkerja.

Sedikit timbul rasa tak percaya saat melihatnya telah hadir diantara jamaah sholat dhuhur dihari ke-21 pada bulan puasa yang lalu. Pak Jaelani yang tampak semakin renta itu masih saja bersemangat untuk mendatangi masjid kami padahal jarak dari rumahnya cukup jauh. Sedangkan akang yang masih segar bugar masih saja tenggelam dalam kesibukan materi yang tak pernah ada akhirnya. Melihat kehadiran Pak Jaelani langsung memberi tekad kuat bagi untuk mengikuti kegiatan i’tikaf pada ramadhan tahun ini. Biar saja rasa “iri” ini yang menjadi alasan keinginan akang menjalankan i’tikaf. Mungkin saja Alloh SWT menghadirkan Pak Jaelani dalam kehidupan akang sebagai guru yang bertindak mengajari muridnya.

Seminggu kami bersama menjalani kegiatan i’tikaf. Mencoba berlomba menjalankan segala hal yang terbaik yang bisa dilakukan di bulan suci ini. Walaupun akang hanya menjalaninya diluar waktu kerja namun ini harus dilakukan daripada tidak samasekali. Tidak seperti Pak Jaelani yang bisa menjalani dengan khidmat tanpa gangguan apapun. Tak lupa juga cerita Pak Jaelani yang mengisi perbincangan diantara waktu senggang kami. Masih tentang penyakit katarak yang dideritanya. Masih tentang keengganannya untuk mudik. Masih tentang banjir yang seringkali menghampiri rumahnya. Cerita yang seolah baru saja akang dengar. Cerita yang belum tentu akang dengar di ramadhan tahun depan. Entah siapa yang akan mendengar cerita tentang sebuah kepergian temannya menghadap Sang Pencipta di tahun depan. Bisa jadi akang, bisa jadi Pak Jaelani. Namun akang masih berharap kami masih bisa sama-sama bertukar cerita di ramadhan tahun depan.

Pak Jaelani

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

6 Balasan ke Bersama Pak Jaelani (lagi)

  1. Idah Ceris berkata:

    Kang, mohon maaf lahir dan batin, ya. Lama tidak kontak.🙂

  2. ditter berkata:

    Aminnn….

    Alhamdulillaah, senang ya kang punya sahabat yang bisa menjadi inspirasi kita untuk melakukan kebaikan….🙂

  3. duniaely berkata:

    Mengapa beliau enggan mudik kang?😛

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s