Menjemput Hidup

air1 (1)

Suara takbir dari mushola di seberang jalan terus saja berkumandang. Mengalun memenuhi langit malam Idul Fitri, seolah saling bersahutan dengan suara takbir dari masjid2 disekitarnya. Dengan segala kesederhanaannya, berlebaran di kampung halaman sungguh memberi kesan yang mendalam bagi akang. Dan akang merasa yakin banyak orang lain juga merasakan perasaan yang sama. Buktinya di setiap lebaran di setiap tahun jutaan orang melakukan perjalanan untuk mudik demi berlebaran dikampung halamannya. Ada satu cerita yang ingin akang bagikan ketika berada di kampung saat lebaran lalu. Dikampung akang sumber air untuk kebutuhan sehari-hari disediakan dengan cara mengalirkan air dari sumber mata air ke rumah-rumah. Dalam postingan kampung tanpa kran air akang pernah bercerita bahwa air dialirkan melalui pipa paralon atau selang plastik. Air yang masuk ke rumah biasanya ditampung dalam sebuah bak atau penampung air lainnya. Penampungan air sendiri tidak memakai keran karena air yang mengalir datang terus menerus. Sehingga saat bak penampungan telah penuh, kelebihan airnya terbuang begitu saja.

air1 (2)

Nah saat malam lebaran itu akang menyadari ternyata tidak ada air mengalir yang ke dalam bak penampungan. Mudah saja untuk mengetahui ketika tidak ada aliran air di kamar mandi. Jika tidak terdengar gemericik suara air bisa dipastikan aliran air yang masuk ke rumah terhenti. Hanya saja untuk memeriksa aliran air dimalam hari ke bak penampungan induk sulit dilakukan. Pasalnya akang tak tahu posisi pipa di penampungan induk yang mengalir ke rumah akang. Memang bisa diusahakan dengan cara menelusuri pipa air dari rumah hingga ke penampungan induk namun dimalam hari tetap saja hal itu sulit dikerjakan. Alhasil di pagi hari menjelang sholat Ied, akang sekeluarga membersihkan diri dengan air yang terbatas. Beruntung bak penampungan di rumah berukuran besar sehingga cukup untuk keperluan semua penghuni rumah. Apalagi ketika itu di rumah hanya keluarga akang berempat beserta ibu dan bapak akang. Saudara akang yang lain berada dirumah mereka masing-masing. Barulah setelah selesai sholat Ied dan bersilaturahim di lapangan akang memiliki kesempatan untuk memeriksa saluran air.

air1 (3)

Bak penampungan induk berada tak jauh dari rumah. Menuju kesana akang harus melalui jalan sempit diantara rumah-rumah tetangga. Kondisi tanah yang berbukit menyebabkan jalan penghubung antar rumah kebanyakan melalui jalan bertangga.Agar jalur pipa yang diperiksa tak tertukar akang memperhatikan jalur pipa air yang berasal dari rumah akang. Hal ini dilakukan agar jalur pipa yang diperiksa tidak tertukar dengan milik orang lain. Apalagi ukuran dan warna pipa tak berbeda. Pipa-pipa air yang menjadi jalan bagi air untuk sampai ke rumah-rumah memang cukup banyak. Apalagi sumber air yang tersedia tak hanya satu. Pipa-pipa bisa saling bersilang dan membingungkan bagi orang yang belum terbiasa memeriksanya. Saat memeriksa itulah salah seorang tetangga menyapa akang dengan sapaan khas yang mengingatkan akang akan keramahan kampung.

air1 (4)

“Bade kamana A? ngondang?” Jika diterjemahkan sapaan itu berarti “Mau kemana Kak? Mengundang?”
Mungkin terdengar aneh saat orang tersebut menggunakan kata “mengundang”, seolah-olah akang hendak meminta seseorang untuk datang ke rumah. Bisa juga terjemahan yang lebih tepat adalah “menjemput”. Namun begitulah cara orang kampung akang untuk menyapa seseorang dengan sebuah kalimat sopan namun tetap bernada canda yang hangat. Akan terasa hambar jika dia menyapa dengan menggunakan kalimat “memeriksa saluran air” atau “mengecek pipa”. Mungkin bagi sebagian pembaca membaca paragaraf ini terkesan begitu teknis tentang bahasa sunda. Hanya saja akang ingin memberikan gambaran bahwa bagi orang di kampung sapaan dengan kalimat yang tepat akan membuat hubungan antara seseorang dengan lainnya menjadi lebih baik. Makna lain dibalik sapaan itu adalah bagaimana mereka memperlakukan “air” seperti mahluk hidup. Seperti didalam bahasa Indonesia dikenal dengan dengan gaya bahasa Personifikasi. Mereka menyadari bahwa keberadaan air adalah keberadaan hidup. Air adalah anugerah Tuhan yang dengannya pula kehidupan di dunia ini bisa berlangsung sempurna.

Duh ceritanya malah ngelantur kemana-mana nih! Maaf yah sobat singkat cerita air pun kembali bisa mengalir kerumah akang demi memenuhi segala tugasnya dialam dunia ini:mrgreen:

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

3 Balasan ke Menjemput Hidup

  1. Ika Koentjoro berkata:

    Kebayang berapa meter pipa yang dibutuhkan. Yah, demi untuk hidup bagaiman sulitnya tetep dijabanin ya Kang ^^

  2. Nurimzaidin berkata:

    yang pasti, air di rumah akang itu adeeemm..😀

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s