Mabok Koplo Di Pantura

IMG_20141205_112622

Seminggu yang lalu akang melakukan perjalanan bersama istri ke Jepara. Sebelumnya akang mencoba mendapatkan tiket kererta api menuju Jepara. Ternyata kota Jepara tidak dilewati jalur kereta (akang memang katro soal jalur kereta). Kalaupun mau akang harus berhenti di Semarang untuk selanjutnya meneruskan perjalanan menggunakan bis menuju Jepara. Akhirnya diputuskan untuk menaiki bis langsung menuju Jepara. Sebelumnya akang belum pernah sekalipun melakukan perjalanan menggunakan bis melewati jalur pantura. Banyak cerita yang akang dengar tentang kebiasaan supir bis jalur pantura yang terkenal ugal-ugalan. Mungkin saatnya bagi akang untuk membuktikan sendiri cerita tentang supir2 jalur pantura sambil berharap semoga semua itu hanya bohong belaka. Akang memilih menaiki bis eksekutif dari sebuah PO bis yang ada di lebak bulus. Dengan harapan perjalanan akan nyaman karena bis hanya memuat 30 penumpang serta sarana hiburan melalui sebuah layar televisi besar dibagian depan bis.

Perjalanan bis dimulai dari terminal Lebak Bulus pukul 5 sore hari. Ketika memesan tiket akang memilih duduk dikursi terdepan dengan harapan punya ruangan lebih untuk kaki bisa selonjoran. Selepas terminal lebak bulus kecepatan bis masih pelan karena jalanan yang padat ditambah saat itu adalah jam pulang kantor. Namun begitu memasuki jaln tol Jakarta – Cikampek mulai terasa kecepatan bis yang semakin meningkat. Supir bis benar-benar memacu bis dengan kecepatan tinggi. Celah antara kendaraan lain yang sempit pun seringkali tetap dilalui dan itupun tetap dalam kecepatan tinggi. Akang mulai berpikir ternyata benar cerita selama ini yang akang dengar tentang kebiasaan supir bis di jalur pantura. Posisi duduk akang yang berada dibarisan terdepan memungkinkan akang melihat dengan jelas jalur jalan yang ada didepan bis. Melihat bagaimana bis hampir menubruk kendaraan lain yang ada didepan disusul rem mendadak yag membuat badan terdorong kedepan seketika. Rasa nyaman yang diharapkan dengan duduk dibarisan depan hilang sudah. Berganti dengan perasaan takut melihat sepak terjang supir dalam memacu bisnya.

Untuk mengurangi rasa was-was selama perjalanan akang mencoba mengalihkan perhatian kepada hal lain. Layar televisi yang ada didepan yang coba akang perhatikan untuk mengurangi perhatian ke jalanan didepan bis. Lagu-lagu dangdut dengan irama koplo mengiringi dari sejak keberangkatan di terminal lebak bulus. Walaupun akang kurang begitu menikmatinya namun akang coba untuk sedikit mengurangi ketegangan. Sambil berharap kondektur akan mengganti dengan lagu-lagu dari Wali Band, Afgan atau paling tidak Ayu Ting-ting. Ketika mencoba meminta mengganti lagunya sang kondektur angkat tangan karena tak mempunyai koleksi lagu-lagu yang lain selain dangdut koplo. Sambil bercanda sang supir bilang kalau mendengarkan lagu kolpo bisa menghilangkan kantuk.

Akhirnya akang pun menyerah dengan kondisi yang ada. Mencoba menikmati tontonan dari penyanyi yang entah siapa namanya. Membawakan lagu-lagu yang entah apa judulnya. Direkam dari panggung sebuah hajatan yang entah berada dimana tempatnya. Entah siapa pula yang punya hajatnya. Alunan musik yang didominasi oleh suara gendang yang biasa terlihat dalam sebuah iringan gamelan. Bergantian dengan lengkingan suara gitar listrik yang meraung-raung tak kalah sangar dengan musik metal. Mengiringi penyanyi yang bergoyang kesana kemari. Tangannya sigap mengambil uang saweran yang diberikan penonton didepan panggung. Dengan pakaian ketat atau bahkan sebagian tampak seronok. Terus bergoyang tanpa peduli ditonton oleh anak-anak kecil yang juga tampak hadir disekitar panggung.

Pandangan mata yang membuat was-was, alunan musik yang menusuk telinga, sungguh merupakan teman perjalanan yang sulit dilupakan. Pada perjalanan pertama kali melewati jalur pantura akang harus merasakan semuanya. Berusaha memejamkan mata sambil menutup kuping dengan headphone dan memutar lagu-lagu di ponsel pun tak banyak membantu. Kondektur akhirnya mematikan musik saat waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Keheningan mengantar akang menuju kota Jepara sambil tertidur pulas setelah mabok koplo di pantura.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Mabok Koplo Di Pantura

  1. Titik Asa berkata:

    Tempo hari saya ke Yogya, naik bis juga dari agen karcisnya di pasar Bantar Gebang Kang.
    Tapi yg aneh, sepanjang perjalanan malah diputar lagu-lagu Sunda. Jadi enjoy juga sampai tertidur pulas sampe terminal Giwangan.

    Kabita ka Karimun Jawa abdi mah Kang…

    Salam,

  2. dani berkata:

    Ya ampun Kang. kebayang itu sport jantungnya gimana. Adududuh, saya kapok loh naik di bagian paling depan bis. Mending pilih yang paling belakang kalo saya Kang dan memang koleksinya kebanyakan dangdut koplo. Jadi lain kali bawa dvd ato vcd lagu kesukaan kita aja Kang.😀 Rikues gitu nantinya ke kondekturnya. Hihihi.. Jadinya kapok ngga Kang naik bis?😀

  3. Hendro Nurkholis berkata:

    Coba deh bus angkutan kota di Padang, bakal mabok house remix😆

  4. lieshadie berkata:

    Wohoooooo….asiknyaaaaa ke Karimun Jawa, aku malah belum pernah Hiks !

  5. Ryan berkata:

    memang keren tuh kang… supirnya mantap2. hahahaha
    pernah naik di daerah Sumedang, jalan kelok2 tapi tetep aja ngebuts

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s