Buah Penyesalan

IMG_20150118_214715(1)

Sosok yang akang tunggu-tunggu akhirnya tampak juga setelah hampir tiga jam menunggu. Turun dari bis yang membawanya dari Jakarta beserta anggota rombongan lainnya. Rasa lega kini menyelimuti hati akang setelah selama sepuluh hari selalu diliputi rasa cemas. Ibu akang telah kembali pulang dari perjalanan melaksanakan ibadah Umroh. Diusianya yang menjelang enam puluh tahun, badannya tampak terhuyung manakala turun dari bis. Hanya isak tangis yang bisa dilakukannya manakala menyadari kehadiran akang beserta anggota keluarga lainnya. Semoga saja itu bukan tangis keletihan melainkan tangis kebahagiaan.

Ingatan akang lansung menerawang kembali ketika setahun yang lalu Ibu menyampaikan keinginannya untuk pergi ke tanah suci. Keinginan yang sama yang dimiliki oleh semua muslim dimanapun. Kondisi bapak yang sakit berat benar-benar menghentak kesadaran Ibu bahwa kesehatan seseorang begitu gampang sirna. Saat menyampaikan keinginan tersebut terbersit rasa penyesalan Ibu dengan kondisi saat ini. Beliau merasa seharusnya dari dulu bisa memaksakan diri untuk melaksanakan ibadah haji bersama Bapak. Dimana kondisi ekonomi tak sesulit keadaan sekarang ini. Apalagi mereka berdua masih dalam keadaan segar bugar. Rasa penyesalan yang Ibu sampaikan sesungguhnya sebuah tamparan keras bagi akang bersama saudara lainnya. Kami-lah yang harus disalahkan atas apa yang terjadi pada Ibu dan Bapak. Perhatian dan segala kerja keras mereka tentu saja dicurahkan bagi kebahagian kami walau harus menunda keinginan mereka sendiri.

Keinginan melaksanakan ibadah haji saat ini memang tidak mudah. Selain biayanya yang tak sedikit, lamanya antrian menjadi masalah tersendiri yang harus dihadapi. Ibu menyadari akan hal ini, keinginan melaksanakan ibadah haji nampaknya menjadi pilihan sulit. Ibu merasa jika pun saat ini bisa mendaftar dan harus menunggu hingga 6-7 tahun, dia takut saat itu tiba kondisi kesehatannya malah tidak mendukung. Dengan berat hati Ibu menyetujui untuk melaksanakan ibadah umroh. Dibenaknya mungkin masih lebih baik daripada samasekali tidak pernah mengunjungi tanah suci yang menjadi idamannya. Walaupun tetap saja keinginan untuk beribadah haji tetap terpelihara dihatinya sebagai sebuah kewajiban yang harus ditunaikan oleh semua umat muslim.

Niat umroh telah ditetapkan oleh Ibu. Kini giliran kami yang harus memikirkan biaya perjalanan tersebut. Walaupun Ibu bersikeras untuk menjual sebagian tanahnya namun kami berusaha melarangnya. Setahun lamanya kami berusaha keras memenuhi biaya umroh. Jumlah yang bagi kami tentu saja bukan jumlah yang sedikit. Idealnya ada salah seorang diantara anaknya yang bisa mengantarnya menuju tanah suci. Namun apa daya, mengumpulkan untuk biaya satu orang saja tak gampang buat kami apalagi harus menyiapkan biaya untuk dua orang. Keyakinan Ibu untuk berangkat umroh sendirian semata hanya timbul karena keterbatasan kemampuan kami untuk menemaninya. Mau tidak mau kami harus merelakan kepergian Ibu. Seorang Ibu yang tak pernah sekalipun merasakan naik kapal terbang. Seingat akang perjalanan terjauhnya adalah ke kota Jambi, itupun dilakukannya berpuluh tahun yang lalu. Kami benar-benar harus mempercayakan lancarnya perjalan Ibu kepada agen travel yang diikutinya. Ibu Akang bukanlah seseorang yang tahu menggunakan ponsel apalagi sosial media lainnya. Yang diketahuinya hanya menekan tombol berwarna hijau jika ada seseorang yang menelepon ke ponselnya. Terbayang sudah sulitnya kami untuk memantau keadaannya selama disana. Beruntung ada seorang peserta lainnya dalam satu rombongan yang berjanji untuk mengabari kami keadaan Ibu selama disana melalui BBM. Darinya pula akang mendapatkan foto Ibu yang sedang berdiri didepan Ka’bah. Walaupun hanya satu-satunya foto yang ada namun foto itu pula yang bisa membuat air mata menetes karena bahagia.

Setibanya di rumah Ibu merasa sakit dan tidak enak badan. Kami menyangka itu hanyalah karena jetlag dan kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh. Apalagi jam tubuhnya belum beradaptasi setelah beberapa hari di tanah suci. Kami langsung membawanya ke dokter untuk mendapatkan pengobatan. Seminggu berselang keadaan Ibu belum juga membaik, suhu tubuhnya terus meninggi. Kini akang merasa khawatir dengan kondisi Ibu, apalagi setelah sepuluh hari berlalu. Mulai teringat berita tentang mewabahnya virus berbahaya yang menyerang Saudi Arabia satu atau dua bulan yang lalu. Ah semoga itu hanya kekhawatiran akang yang berlebihan yang timbul bersama rasa penyesalan karena tak bisa menemani Ibu melaksanakan ibadah umroh. Sungguh sebuah penyesalan yang berujung penyesalan. Benarlah apa yang dikatakan para ulama, ingatlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara.

“Muda sebelum tua
Sehat sebelum sakit
Lapang sebelum sempit
Kaya sebelum miskin
Hidup sebelum mati”

Syafakillahu Ibu semoga cepat diberikan kesembuhan Amiiiin….!

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

6 Balasan ke Buah Penyesalan

  1. Abi Sabila berkata:

    Semoga ibunda segera dipulihkan kesehatannya seperti sedia kala. Amiin.
    Lamanya menunggu di daftar antrian menjadi salah satu alasan mengapa ibu mertua brrangkat umroh tahun ini, sebelum ada ‘penyesalan’ di kemudian hari.
    Salam

  2. lieshadie berkata:

    Salam buat Ibunda ya Kang….iku senang mendengar ceritamu ini…semoga Ibu segera sehat kembali…

  3. naniknara berkata:

    semoga ibunda segera kembali sehat seperti semula.

  4. dani berkata:

    Subhanallaah Kang. Alhamdulillaah Ibu sudah menginjak tanah suci ya Kang. Semoga beliau segera diberikan kesembuhan dari sakitnya. Mungkin hanya kelelahan Kang.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s